1.366 pelanggaran terekam ETLE, 18 orang mengalami luka ringan selama operasi berlangsung.
MADIUN, Garudasatunews.id – Operasi Patuh Semeru 2026 di wilayah hukum Polres Madiun mengungkap masih tingginya pelanggaran disiplin berlalu lintas. Selama 10 hari pelaksanaan, mulai 26 Oktober hingga 4 November 2026, polisi mencatat 1.421 pelanggaran. Sebanyak 1.366 pelanggaran di antaranya terdeteksi melalui sistem Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE). Pada periode yang sama, tercatat 12 kecelakaan lalu lintas dengan 18 orang mengalami luka ringan.
Data Satlantas Polres Madiun menunjukkan, penindakan melalui ETLE menjadi metode dominan dalam operasi tersebut. Sementara 55 pelanggaran lainnya ditindak melalui tilang manual, terdiri atas 35 pelanggaran melawan arus dan 20 pelanggaran tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB).
Kasatlantas Polres Madiun AKP Dristica Brian Arya Leviantona mengatakan, penegakan hukum dilakukan dengan mengutamakan sistem elektronik. Penindakan manual difokuskan terhadap pelanggaran tertentu, terutama tindakan melawan arus dan ketidaksesuaian TNKB.
Pelanggaran yang paling banyak terekam ETLE didominasi pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm serta pengemudi mobil yang tidak mengenakan sabuk pengaman.
12 Kecelakaan, 18 Orang Luka Ringan
Di balik ribuan penindakan tersebut, angka kecelakaan lalu lintas masih menjadi perhatian. Selama periode operasi, terdapat 12 kejadian kecelakaan yang menyebabkan 18 orang mengalami luka ringan. Polisi memastikan tidak ada korban meninggal dunia.
Jika dilihat berdasarkan lokasi kejadian, jalan kabupaten menjadi titik dengan jumlah kecelakaan terbanyak, yakni tujuh kejadian. Berikutnya empat kejadian berlangsung di jalan nasional dan satu kejadian di jalan desa.
Kondisi tersebut menjadi catatan penting dalam evaluasi keselamatan lalu lintas. Sebab, tingginya angka penindakan belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam berkendara telah meningkat.
Pagi dan Malam Menjadi Waktu Rawan
AKP Dristica menyebut kecelakaan terjadi pada waktu yang bervariasi. Namun, sejumlah insiden berlangsung pada pagi hari ketika masyarakat berangkat sekolah dan bekerja, serta malam hari saat pengendara kembali dari aktivitasnya.
Pola tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan kewaspadaan pada jam-jam mobilitas masyarakat. Pengawasan dan edukasi keselamatan berkendara juga perlu menjangkau ruas jalan kabupaten yang mencatat jumlah kecelakaan paling banyak.
Evaluasi dan Antisipasi Libur Nataru
Menjelang berakhirnya Operasi Patuh Semeru 2026, Satlantas Polres Madiun berencana meningkatkan sosialisasi keselamatan berlalu lintas. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi potensi peningkatan mobilitas masyarakat menjelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Polisi mengingatkan masyarakat agar kepatuhan terhadap aturan lalu lintas tidak hanya muncul ketika operasi kepolisian berlangsung.
Keselamatan berkendara harus menjadi kebutuhan dan kesadaran setiap pengguna jalan, bukan sekadar upaya menghindari sanksi tilang.
Tingginya jumlah pelanggaran yang tercatat melalui ETLE dan masih terjadinya kecelakaan menjadi pengingat bahwa penegakan hukum perlu berjalan beriringan dengan pendidikan keselamatan, pengawasan, serta perubahan perilaku pengendara.
Dengan demikian, keberhasilan operasi lalu lintas tidak semata-mata diukur dari banyaknya pelanggar yang ditindak, tetapi juga dari kemampuan menekan angka kecelakaan dan melindungi keselamatan masyarakat di jalan raya.
(Red-Garudasatunews)














