Mikroplastik Ditemukan di Sungai Gogor, Fosfat Capai 0,8 ppm

oleh -34 Dilihat
oleh
Mikroplastik Ditemukan di Sungai Gogor, Fosfat Capai 0,8 ppm
MIMO ECOTON hadir perdana di Wonosalam, Jombang, melibatkan lebih dari 50 pelajar, Polisi Air Wonosalam, dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung dalam pemantauan kualitas air Sungai Gogor
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Mobil Laboratorium Mikroplastik (MIMO) ECOTON bersama lebih dari 50 pelajar dari Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung menemukan 20 partikel mikroplastik dan kadar fosfat mencapai 0,8 ppm dalam pemantauan kualitas air Sungai Gogor, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Temuan awal tersebut menjadi perhatian terhadap kondisi ekosistem sungai yang merupakan bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (18/10/2026) itu mencakup edukasi lingkungan, pengambilan sampel air, pengamatan mikroplastik, pengukuran fosfat, serta pemeriksaan biota air menggunakan metode biotilik. Pemantauan dilakukan untuk meningkatkan pemahaman pelajar mengenai kondisi sungai dan pentingnya menjaga lingkungan perairan.

Mikroplastik Didominasi Serat Sintetis

Berdasarkan pengamatan mikroskopis awal, tim pelajar mengidentifikasi 20 partikel mikroplastik dalam sampel air Sungai Gogor. Temuan tersebut terdiri atas 12 partikel fiber atau serat sintetis, tujuh partikel film berupa lembaran plastik tipis, dan satu partikel fragmen berupa serpihan plastik keras.

Serat sintetis dapat berkaitan dengan aktivitas pencucian kain atau tekstil, sedangkan partikel film dan fragmen dapat berasal dari berbagai jenis sampah plastik. Namun, penentuan sumber spesifik pencemaran memerlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.

Selain mikroplastik, peserta juga menemukan dua objek yang diidentifikasi sebagai fitoplankton. Pengamatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran langsung mengenai keberadaan partikel dan organisme mikroskopis di perairan.

Kadar Fosfat Capai Empat Kali Nilai Acuan

Temuan lain yang menjadi perhatian adalah kadar fosfat sebesar 0,8 ppm. Angka tersebut empat kali lebih tinggi dibandingkan nilai acuan 0,2 ppm yang digunakan dalam kegiatan pengujian berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Kadar fosfat yang tinggi dapat mengindikasikan masuknya nutrien berlebih ke badan air. Salah satu sumber yang perlu ditelusuri adalah limbah domestik, termasuk air bekas deterjen dan aktivitas rumah tangga. Menurunnya debit sungai pada musim kemarau juga dapat meningkatkan konsentrasi zat terlarut.

Meski demikian, hasil pengukuran lapangan tersebut perlu ditindaklanjuti melalui pengujian laboratorium yang terverifikasi, pemeriksaan pada beberapa titik, dan pemantauan berkala untuk mengetahui tingkat serta sumber pencemaran secara lebih akurat.

Biota Air Menjadi Indikator Kondisi Ekosistem

Melalui metode biotilik, kelompok pelajar yang dipimpin Julia Fahma dan Aulia Nur Azizah menemukan 17 individu makrozoobentos dari sejumlah famili, yakni Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae.

Keberadaan organisme tersebut digunakan sebagai salah satu indikator awal untuk mengevaluasi kondisi ekosistem perairan. Hasil pengamatan yang dilaporkan mengindikasikan adanya gangguan kualitas lingkungan sungai, tetapi penilaian menyeluruh membutuhkan data tambahan dan analisis yang terukur.

ECOTON Dorong Pengawasan Sungai Berkelanjutan

Peneliti dan pegiat lingkungan ECOTON, Amiruddin Muttaqin, berharap kehadiran MIMO di Wonosalam dapat memperkuat pemantauan sungai berbasis partisipasi masyarakat atau citizen science, terutama dengan melibatkan generasi muda.

Upaya perlindungan Sungai Gogor, menurutnya, perlu dilakukan bersama melalui pengurangan plastik sekali pakai, pencegahan pembuangan limbah langsung ke sungai, serta perbaikan pengelolaan limbah domestik.

Temuan awal ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan kualitas air di kawasan hulu Brantas. Pemeriksaan lanjutan, keterbukaan hasil pemantauan, dan keterlibatan pemerintah serta masyarakat diperlukan agar indikasi pencemaran dapat ditindaklanjuti berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.