JOMBANG, Garudasatunews.id – Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang, berduka. Nyai Hj. Machfudhoh Aly Ubaid, putri sulung pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah sekaligus ulama perempuan senior NU, wafat di kawasan Kalibata, Jakarta, Minggu (4/10/2026) malam.
Nyai Machfudhoh mengembuskan napas terakhir pada usia 82 tahun setelah menjalani penanganan medis. Kabar wafatnya dikonfirmasi pihak keluarga. Jenazah selanjutnya dipulangkan ke Jawa Timur untuk dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (5/10/2026) sore.
Ketua Umum Yayasan PPBU Tambakberas Jombang KH Abdurrozaq Sholeh atau Gus Rozaq menyampaikan bahwa prosesi pemakaman dilakukan di kompleks pemakaman keluarga Tambakberas selepas salat Asar. Keputusan tersebut menegaskan kuatnya ikatan almarhumah dengan lingkungan pesantren yang selama puluhan tahun menjadi salah satu ruang utama pengabdiannya.
Nyai Machfudhoh dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al-Lathifiyyah 1 Bahrul Ulum Tambakberas. Ia mulai mengemban amanah mengasuh pesantren tersebut sejak 1994 dan konsisten memberikan perhatian terhadap pendidikan serta kaderisasi santri perempuan.
Di tengah aktivitasnya di organisasi dan politik, almarhumah tetap berupaya menjaga hubungan dengan pesantren. Ia tercatat pernah memimpin Pimpinan Pusat Fatayat NU pada periode 1979–1989 serta terlibat dalam berbagai aktivitas dakwah perempuan melalui Muslimat NU dan Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim (HIDMAT) Muslimat NU.
Jejak pengabdiannya juga masuk ke ranah politik nasional. Nyai Machfudhoh pernah menjadi anggota DPR RI dalam beberapa periode. Pengalaman organisasi, dakwah, pendidikan pesantren, dan politik tersebut membuat kiprahnya berada pada persimpangan penting antara tradisi pesantren, gerakan perempuan, dan kehidupan kebangsaan.
Dalam struktur PBNU, Nyai Machfudhoh juga dipercaya sebagai Mustasyar. Ia sebelumnya pernah mendapat amanah sebagai A’wan PBNU pada masa khidmah 2015–2021, kemudian menjadi Mustasyar pada periode 2021–2026 dan kembali dipercaya dalam kepengurusan PBNU periode 2026–2031.
Dari sisi sejarah NU, wafatnya Nyai Machfudhoh tidak sekadar menjadi kabar duka keluarga besar pesantren. Kepergiannya juga menandai berakhirnya perjalanan panjang salah satu ulama perempuan yang tumbuh langsung dari lingkungan keluarga pendiri NU dan kemudian membangun kiprah sendiri dalam pendidikan, dakwah, organisasi, serta politik.
Nyai Machfudhoh lahir di Jombang pada 12 Maret 1944 dari pasangan KH Abdul Wahab Chasbullah dan Nyai Sa’diyah. Sebagai putri sulung, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki keterikatan kuat dengan sejarah awal Nahdlatul Ulama.
Kepergian almarhumah meninggalkan pekerjaan besar bagi generasi penerus, terutama dalam menjaga kesinambungan pendidikan pesantren, kaderisasi perempuan, dan tradisi pengabdian yang selama ini dijalankannya.
Bagi keluarga besar NU dan PPBU Tambakberas, pemakaman Nyai Machfudhoh di tanah pesantren menjadi penutup perjalanan hidup seorang tokoh perempuan yang sebagian besar pengabdiannya diabdikan untuk pendidikan, dakwah, organisasi, dan masyarakat.
(Red-Garudasatunews)













