NVDA Kawal UTBK Tunanetra di Unesa

oleh -83 Dilihat
oleh
NVDA Kawal UTBK Tunanetra di Unesa
Salah satu peserta mengikuti UTBK di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menghadirkan perhatian khusus pada aksesibilitas. Empat peserta tunanetra mengikuti ujian sesi pagi di Kampus Lidah Wetan, Kamis (23/4/2026), dengan dukungan teknologi asistif berbasis audio.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Martadi, mengungkapkan total terdapat enam peserta disabilitas tahun ini, terdiri dari dua tunarungu dan empat tunanetra. Panitia menyiapkan ruang khusus, pendamping, serta perangkat teknis untuk memastikan kelancaran ujian.

“Infrastruktur teknis seperti jaringan dan audio disiapkan agar peserta dapat mengerjakan soal tanpa hambatan,” ujarnya.

Hasil penelusuran menunjukkan, sistem ujian bagi peserta tunanetra mengandalkan perangkat lunak Non Visual Desktop Access (NVDA) yang mengonversi tampilan visual soal menjadi audio. Teknologi ini memungkinkan peserta memahami dan menjawab soal secara mandiri melalui perintah suara.

Koordinator TIK Unesa, I Gusti Lanang Putra Eka Prismana, menyatakan penggunaan NVDA menjadi komponen utama dalam mendukung aksesibilitas ujian. Selain itu, peserta juga dibekali alat bantu hitung berupa reglet yang disediakan panitia pusat.

“Perangkat lunak ini menerjemahkan tampilan visual menjadi audio sehingga peserta bisa memahami soal secara utuh,” jelasnya.

Kasubdit Admisi Unesa, Sukarmin, menambahkan pihak kampus turut menyiapkan fitur tambahan seperti pembesar layar untuk kategori low vision. Namun, fasilitas tersebut tidak digunakan karena seluruh peserta pada sesi ini merupakan tunanetra total.

Panitia juga menyiagakan perangkat cadangan hingga 50 persen dari total kebutuhan untuk mengantisipasi gangguan teknis. Seluruh instrumen, menurut panitia, telah melalui uji kelayakan sebelum ujian berlangsung.

Di sisi peserta, kesiapan menghadapi UTBK terlihat dari pengakuan Shakina Aliya Bilbina, peserta asal Mojokerto yang memilih Program Studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB). Ia mengaku telah mempersiapkan diri sejak duduk di bangku sekolah menengah.

“Persiapan sudah dilakukan sejak SMA. Saya ingin membantu sesama tunanetra agar bisa membaca Braille,” ujarnya.

Pelaksanaan UTBK inklusif ini menjadi indikator komitmen perguruan tinggi dalam membuka akses pendidikan bagi penyandang disabilitas. Namun, efektivitas implementasi teknologi asistif dan kesiapan infrastruktur tetap menjadi faktor krusial yang menentukan kualitas layanan di lapangan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.