
SIDOARJO,garudasatunews.id — Suasana hiruk-pikuk dan penuh antusiasme mewarnai sudut pameran di Museum Mpu Tantular kemarin. Beragam bentuk kerajinan dari lempung tanah liat tampak berjajar rapi, memancing decak kagum para pengunjung yang melintas. Karya-karya bernilai seni ini bukanlah benda sembarangan, melainkan buah tangan dari Desa Rendeng, sebuah wilayah di Kecamatan Malo, Kabupaten Bojonegoro, yang telah dikenal sebagai sentra perajin gerabah warisan nenek moyang sejak tahun 1930-an. Di tengah gempuran zaman modern, pameran ini menjadi etalase hidup yang menceritakan panjangnya napas tradisi dari sebuah desa kecil di Jawa Timur.

Menggali lebih dalam sejarahnya, perjalanan gerabah Rendeng diawali dengan wujud yang sederhana namun penuh makna. Pada awal mula produksinya, gerabah dari desa ini dibentuk menyerupai boneka pengantin. Seiring berjalannya waktu, imajinasi para perajin makin berkembang hingga mereka mulai memproduksi bentuk hewan seperti harimau, sapi, dan ayam, mulai dari ukuran kecil hingga raksasa. Karya-karya klasik inilah yang kemudian memikat hati masyarakat luas, baik dibeli langsung oleh pengunjung maupun didistribusikan melalui tengkulak hingga ke luar kota.
Sempat merasakan masa keemasan, kerajinan gerabah pernah menjadi tulang punggung perekonomian utama bagi warga setempat. Di masa jayanya, kurang lebih 80 persen penduduk Desa Rendeng menggantungkan periuk nasi mereka dari profesi sebagai perajin gerabah. Namun, badai krisis moneter tahun 1997-1998 menghantam telak industri lokal ini; harga bahan baku dan biaya transportasi melonjak drastis, membuat modal tak lagi seimbang dengan hasil penjualan. Ganasnya krisis ini memaksa banyak pengepul dan perajin gulung tikar, sehingga jumlah perajin yang bertahan merosot tajam dan hanya tersisa 35 persen saja.
Inovasi Celengan Karakter sebagai Penyelamat
Seperti pepatah “habis gelap terbitlah terang”, titik balik kebangkitan itu akhirnya datang pada tahun 2014 berkat sebuah langkah adaptasi yang cerdas. Demi menyambung napas tradisi, para perajin mulai menciptakan gerabah model buah-buahan dan celengan berkarakter kartun lucu, seperti Doraemon, Hello Kitty, dan SpongeBob. Keunikan wujud celengan inilah yang kini menjadi ciri khas utama gerabah Bojonegoro, sekaligus pembeda dari daerah lain seperti Klaten dengan cobek cokelatnya, Jepara dengan kendi hitam pekatnya, atau Jogja dengan vas bunganya yang khas. Terobosan produk baru ini sontak meledak di pasaran dan kembali menjadi buruan masyarakat.
Di balik cantiknya celengan Hello Kitty yang dipamerkan di museum kemarin, terdapat proses pembuatan yang menuntut ketelatenan ekstra tingkat tinggi. Bahan utamanya bersumber murni dari alam, yakni perpaduan tanah liat, pasir, dan air. Menariknya, tanah dari pegunungan dikhususkan untuk pembuatan celengan, sedangkan tanah dari tepian Bengawan Solo dipakai untuk bahan perkakas dapur seperti cobek, wajan, dan kuwali. Tanah pegunungan tersebut harus dijemur dulu selama minimal dua hari, direndam air hingga hancur, dicampur pasir, disaring agar lembut, dijemur kembali untuk mengurangi kadar air, hingga diinjak-injak secara manual sebelum akhirnya siap dicetak.
Untuk mewujudkan wujud yang presisi, perajin Rendeng menerapkan empat teknik andalan yang diwariskan turun-temurun. Ada teknik cetak press menggunakan alat besi baja untuk membuat cobek, serta teknik cetak manual memakai bahan gipsum atau semen yang ideal untuk membentuk gerabah jenis celengan. Selain itu, ada pula teknik anjun atau putar menggunakan alat merbot untuk pembuatan guci dan kendi, hingga teknik pijat manual tanpa alat yang biasa diaplikasikan pada gerabah berukuran besar atau berbentuk rumit yang biasanya bernilai seni tinggi
Lahirnya Destinasi Wisata Baru
Daya tarik wujud gerabah kartun ini rupanya membuka pintu rezeki baru yang mungkin tak pernah terbayangkan oleh nenek moyang mereka. Banyak rombongan keluarga hingga perwakilan lembaga pendidikan yang datang berkunjung bukan sekadar untuk membeli, tetapi juga meminta agar diajari cara membuatnya sebagai bahan edukasi dan keterampilan. Peluang emas ini ditangkap dengan sigap oleh para perajin, yang kemudian menyulap desa mereka menjadi sebuah destinasi yang kini dikenal luas sebagai Wisata Edukasi Gerabah. Melalui wisata inilah, mereka terus menciptakan inovasi baru menyesuaikan zaman demi mempertahankan warisan leluhur dan menggerakkan roda ekonomi.
Kesuksesan cerita yang dipamerkan di Museum Mpu Tantular ini tentu tidak lepas dari dedikasi para tokoh penggerak lokal yang turut hadir membagikan kisah inspiratif mereka. Salah satunya adalah Abdul Ghofur, lulusan perguruan tinggi kelahiran 1985 yang kini mengabdi sebagai perajin sekaligus Ketua Pengelola Wisata Edukasi Gerabah. Perjuangannya didampingi oleh Khoirul Aris, pria kelahiran 1995 yang berperan vital sebagai Instruktur sekaligus tenaga pemasaran wisata. Di bawah komando mereka, promosi tak lagi hanya mengandalkan event pameran, tetapi telah merambah dunia digital secara online melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, Facebook, hingga YouTube.
Meski senyum kemandirian telah kembali menghiasi wajah para perajin Desa Rendeng, realitanya perjalanan mereka tak lantas bebas hambatan. Mereka mengakui masih harus berjibaku menghadapi sederet kendala, mulai dari persaingan sengit melawan produk pabrik yang lebih modern, merosotnya jumlah generasi perajin, hingga kenaikan harga bahan baku yang kerap tidak sesuai dengan daya beli penjualan. Belum lagi jika musim hujan tiba, proses produksi seperti pengeringan lempung, pembakaran gerabah, dan pengambilan bahan baku di alam menjadi sangat terganggu. Namun, melihat antusiasme publik di Sidoarjo kemarin, terbersit secercah harapan optimis bahwa tradisi tanah liat ini tidak akan mudah lekang digerus zaman. (Faisal,n Tim)

















