Modal Sudah Keluar, Petani Tembakau Sumenep Kini Dihantui Petaka Gagal Tanam Akibat Hujan Misterius

oleh -27 Dilihat
oleh
banner 468x60

SUMENEP, Garudasatunews.id – Alih-alih menyambut berkah musim kemarau, para petani tembakau di Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kini justru dirundung kecemasan mendalam.

Intensitas hujan yang terus mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir mengancam keberlangsungan ekosistem “emas hijau” yang baru saja mereka tanam.

 

​Cuaca ekstrem yang tidak menentu di awal musim ini dikhawatirkan tidak hanya menurunkan kualitas daun tembakau saat panen, melainkan memicu risiko fatal gagal tanam total.

 

 

​Bagi tanaman tembakau, air berlebih pada fase awal pertumbuhan adalah vonis mati. Karakteristik komoditas ini sangat sensitif terhadap kelembapan tinggi, sebuah fakta pahit yang kini harus dihadapi para petani di lapangan.

 

​Aswar, salah seorang petani tembakau di Kecamatan Ganding, mengungkapkan bagaimana situasi di lahan pertanian saat ini membuatnya waswas.

​”Bibit bisa membusuk dan mati sebelum berkembang dengan baik. Biaya tanam yang tidak sedikit sudah kami keluarkan, dan semuanya terancam hangus jika cuaca terus seperti ini,” keluh Aswar dengan nada getir.

 

​Senada dengan Aswar, Musleh, petani lainnya, mengaku terjebak oleh prediksi cuaca. Banyaknya petani yang curi start melakukan penyemaian didasari atas asumsi bahwa musim kemarau telah tiba.

​“Kalau hujan terus, kami bingung. Tembakau itu butuh panas ekstrem. Jika terlalu banyak air, kualitas daunnya akan merosot tajam, atau yang paling buruk, kami gagal tanam,” tutur Musleh.

 

Penjelasan BMKG: Efek Pancaroba dan Belokan Angin

 

Kepala BMKG Trunojoyo Sumenep, H. Arie Widjajanto, menjelaskan bahwa fenomena ini dipicu oleh fase pancaroba (peralihan musim) yang belum sepenuhnya stabil, seperti dikutip dari Kompas.com.

 

Ada dua faktor utama penyebab hujan di awal kemarau ini:

– Belokan Arus Udara:

Terjadi penumpukan massa udara di timur Sumenep yang memicu pertumbuhan awan hujan di wilayah Madura.

-Uap Air Melimpah:

Angin timuran belum stabil ditambah suhu muka laut yang hangat membuat pasokan uap air sangat tinggi.

 

Imbauan BMKG untuk Petani :

​Meskipun situasi tampak mengkhawatirkan, Arie menyebutkan bahwa hujan yang terjadi umumnya bersifat lokal dan berdurasi pendek (sesaat). Kendati demikian, dampaknya tetap destruktif bagi tanaman muda yang rentan.

 

​“Karena itu, para petani di wilayah Madura sangat perlu melakukan langkah antisipasi dan manajemen saluran air (drainase) yang ketat di lahan mereka agar air tidak menggenang dan merusak bibit,” pungkas Arie.(adc)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.