Menyusuri Jejak Ulama dan Urat Nadi Peradaban: Sowan Kelompok Rembuk Sworo ke Ponpes Al Hamdaniyah di Malam Jumat Legi

oleh -40 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

Sidoarjo,garudasatunews.id — Suasana hangat nan kekeluargaan langsung terasa begitu tim broadcast Kelompok Rembuk Sworo menginjakkan kaki di pelataran Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hamdaniyah, Siwalan Panji, Sidoarjo, pada tanggal 2 kemarin. Kunjungan sowan yang bertepatan dengan momen penuh keberkahan malam Jumat Legi ini dijadwalkan sebagai ajang silaturahmi, dan alhamdulillah disambut dengan tangan terbuka serta senyum ramah oleh para pemangku pondok. Tak ada sekat protokoler yang kaku; obrolan santai pun langsung mengalir sejak menit pertama, menandakan betapa eratnya tradisi memuliakan tamu yang dijunjung tinggi di lingkungan pesantren bersejarah ini.

 

Rombongan Rembuk Sworo mendapat kehormatan luar biasa karena disambut langsung oleh para tokoh penting sekaligus keturunan (dzurriyat) langsung dari pendiri Ponpes, KH Hamdani. Hadir dalam penyambutan penuh keakraban tersebut Ketua Yayasan Ponpes, Gus Hasyim, serta Ketua Pondok, Gus Ipong. Turut mendampingi pula Gus Arief dan Gus Subuh yang menambah hidup suasana perjumpaan pada malam yang istimewa itu. Kehadiran para penerus tonggak sejarah ini memberikan ruh dan kedalaman tersendiri pada perbincangan yang berlangsung.

 

Istimewanya, rombongan tidak hanya diterima di ruang tamu biasa, melainkan dipersilakan masuk dan berembuk di salah satu kamar istirahat yang sarat akan magis nilai historis. Kamar sederhana dengan arsitektur klasik peninggalan masa lampau tersebut merupakan tempat di mana Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), pernah menimba ilmu dan beristirahat saat menjadi santri. Aroma kayu tua dari dinding-dinding bilik seolah menjadi saksi bisu lahirnya pemikiran-pemikiran besar yang kelak mengubah wajah keislaman di Nusantara.

 

Di dalam bilik bersejarah itulah, obrolan mulai menyelam jauh ke masa lalu, menelusuri akar sejarah berdirinya Ponpes Al Hamdaniyah. Gus Hasyim, Gus Ipong, beserta dzurriyat lainnya menceritakan secara bergantian bagaimana KH Hamdani pertama kali merintis pusat pendidikan Islam ini. Kisah-kisah keteladanan sang pendiri dalam menyiarkan agama Islam dengan metode pendekatan kultural di tanah Jawa Timur menjadi sajian narasi yang memukau seluruh anggota Rembuk Sworo.

 

Sebagai catatan sejarah, Ponpes Al Hamdaniyah merupakan salah satu pesantren tertua di Jawa Timur yang didirikan pada tahun 1787 Masehi. Pondok pesantren ini sangat unik karena masih mempertahankan bentuk bangunan aslinya. Deretan asrama santri berkonsep panggung di sini tidak terbuat dari anyaman bambu (gedek), melainkan berdiri kokoh dengan dinding berbahan kayu jati asli tanpa paku besi. Bangunan yang sarat akan nilai artistik klasik ini melambangkan kesederhanaan hidup, ketangguhan, dan ketawadukan. Dari rahim pesantren yang bersahaja inilah lahir banyak kiai dan ulama besar Nusantara, menjadikannya salah satu pilar penting sejarah pendidikan Islam di Indonesia.

 

Kembali ke ruang diskusi, obrolan yang mulanya bernuansa tapak tilas perlahan mengalir menjadi diskusi yang terlihat lebih serius dan tajam. Momen perenungan ini terjadi ketika Mas Wempy, salah satu punggawa Kelompok Rembuk Sworo yang juga merupakan seorang filolog sejarah, melontarkan sebuah analisis kritis. Ia menyoroti sebuah pola historis yang sering luput dari perhatian banyak orang mengenai alasan tata ruang letak geografis berdirinya pusat-pusat pendidikan Islam di masa lampau.

 

Mas Wempy menerangkan dengan rinci alasan mengapa hampir semua pondok pesantren tua, khususnya pada era tahun 1600-an ke atas, didirikan berdekatan dengan aliran sungai-sungai besar. Menurut tinjauan filologi, pada masa itu daratan masih dipenuhi hutan belantara, sehingga sungai mengambil peran krusial bukan sekadar sebagai sumber air bersih, melainkan sebagai urat nadi jalur transportasi utama. Pendirian pesantren di dekat sungai adalah sebuah strategi cerdas untuk terhubung dengan dunia luar dan memastikan kemandirian institusi.

 

Lebih jauh, Mas Wempy memaparkan dinamika ekonomi yang terjadi di jalur air tersebut guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat pesantren pada masa itu. Kapal-kapal atau perahu dagang dari luar daerah hilir mudik membawa bahan makanan pokok, pakaian, serta komoditas yang tidak tersedia di kawasan tersebut. Melalui jalur sungai inilah sistem barter dan perdagangan antara masyarakat pesantren dengan pihak luar terjadi, menciptakan sebuah ekosistem logistik mandiri yang menyokong operasional pondok dalam aktivitas syiar agama.

 

Wawasan sejarah yang membuka mata dari Mas Wempy ini tentu saja memancing diskusi lanjutan yang jauh lebih menarik di antara para hadirin. Kisah sekilas tentang benang merah antara berdirinya ponpes-ponpes bersejarah dengan sungai besar sebagai jalur peradaban dan ekonomi ini tidak akan berhenti di bilik KH Hasyim Asy’ari saja. Topik yang kaya akan nilai literasi sejarah ini rencananya akan dikulik secara lebih mendalam, utuh, dan komprehensif dalam tayangan podcast Kelompok Rembuk Sworo pada episode mendatang.(Faisal dan Tim)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.