Menara Tambakberas Jadi Simbol Muktamar NU

oleh -20 Dilihat
oleh
Menara Tambakberas Jadi Simbol Muktamar NU
Menara Tambakberas Jadi Simbol Muktamar NU
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Menara Masjid Induk Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kembali menjadi perhatian menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026. Bangunan bersejarah tersebut dipilih sebagai ikon dalam logo resmi Muktamar karena dinilai memiliki nilai historis, filosofis, dan spiritual yang kuat bagi warga Nahdliyin.

Di balik arsitektur menara yang dibangun sebelum Indonesia merdeka itu, tersimpan empat huruf hijaiyah, yakni kha, ra, ta, dan mim, yang hingga kini masih terlihat pada bagian menara. Keberadaan empat huruf tersebut telah lama menjadi bagian dari sejarah pesantren dan terus diwariskan sebagai simbol perjuangan para ulama dalam mengawal perjalanan bangsa.

Berdasarkan keterangan yang termuat dalam buku Masterpiece Islam Nusantara – Sanad dan Jejaring Ulama-Santri (1830–1945) karya Zainul Milal Bizawie, empat huruf tersebut ditulis oleh KH Hasbullah Said setelah menjalani laku spiritual. Tulisan itu kemudian ditutup menggunakan kain dan diminta agar tidak dibuka hingga waktu yang telah ditentukan.

Menjelang wafatnya, KH Hasbullah Said berpesan kepada para santri agar penutup tulisan tersebut dibuka oleh putranya, KH Abdul Wahab Hasbullah, pada tahun 1948. Amanat tersebut kemudian dilaksanakan setelah kepemimpinan pesantren diteruskan oleh KH Wahab Hasbullah.

Prosesi pembukaan penutup tulisan dilakukan bersama para santri dengan diiringi pembacaan Shalawat Burdah. Saat kain penutup dibuka, tampak empat huruf hijaiyah yang masih jelas terlihat hingga sekarang.

Dalam tradisi yang berkembang di lingkungan pesantren, rangkaian huruf tersebut dimaknai sebagai simbol “kemerdekaan yang sempurna”. Penafsiran itu kemudian dikaitkan dengan dinamika sejarah Indonesia pascakemerdekaan, ketika bangsa Indonesia terus berjuang mempertahankan kedaulatannya di tengah berbagai tantangan.

Meski demikian, makna filosofis terhadap empat huruf hijaiyah tersebut merupakan bagian dari tradisi dan penafsiran yang hidup di lingkungan pesantren, sehingga dipahami sebagai warisan nilai spiritual, bukan sebagai fakta sejarah yang dapat diverifikasi secara ilmiah.

Ketua Umum Yayasan PPBU sekaligus Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq Sholeh, menjelaskan bahwa pemilihan menara Tambakberas sebagai identitas visual Muktamar didasarkan pada nilai sejarah yang melekat pada bangunan tersebut.

Menurutnya, bentuk menara yang melingkar melambangkan persatuan, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang menjadi bagian dari nilai-nilai perjuangan Nahdlatul Ulama.

“Menara ini dibangun sebelum Indonesia merdeka. Bentuknya yang melingkar menggambarkan persatuan, bahwa dalam kondisi apa pun kita harus tetap bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan,” ujar KH Abdurrozaq Sholeh.

Selain melambangkan persatuan, menara yang menjulang tinggi juga dimaknai sebagai representasi semangat perjuangan ulama dan santri dalam menjaga keutuhan bangsa serta mempertahankan nilai-nilai kebangsaan.

Menjelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU, kawasan menara dan Masjid Induk PPBU Tambakberas tengah dipersiapkan untuk menyambut kedatangan peserta dari berbagai daerah. Perawatan dan penataan dilakukan sebagai bagian dari pelestarian situs bersejarah sekaligus memperkuat identitas pesantren yang telah menjadi bagian penting perjalanan Nahdlatul Ulama.

Keberadaan empat huruf hijaiyah di menara tersebut hingga kini tetap dipertahankan sebagai peninggalan sejarah pesantren. Selain menjadi pengingat perjuangan para ulama, simbol tersebut juga diharapkan dapat memperkuat pesan persatuan, kebangsaan, dan semangat menjaga warisan sejarah Islam Nusantara bagi generasi mendatang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.