MAT PECI Ubah Buruh Tani Bondowoso Jadi Pemilik 16 Sapi

oleh -79 Dilihat
oleh
MAT PECI Ubah Buruh Tani Bondowoso Jadi Pemilik 16 Sapi
Indra Wijaya saat inseminasi sapi di Desa/Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso, Jumat (28/8/2026) siang.
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Perjalanan Feri Efendi dari buruh tani dengan penghasilan sekitar Rp50 ribu per hari menjadi pemilik 16 ekor sapi menjadi salah satu gambaran dampak inovasi pengelolaan ternak di Kabupaten Bondowoso. Kunci perubahan tersebut disebut berasal dari pola Manajemen Ternak Pedet Cepat Jadi Induk (MAT PECI), yang mendorong hasil penjualan pedet diputar kembali untuk membeli indukan produktif.

Warga Desa Sumbergading, Kecamatan Sumberwringin, itu sebelumnya mengandalkan pekerjaan mengangkut hasil pertanian seperti jerami, jagung dan sayuran. Sekitar 2010, penghasilannya rata-rata Rp50 ribu sehari dan dapat mencapai Rp100 ribu ketika pekerjaan sedang ramai.

Feri kemudian dipercaya menjadi penggaduh seekor sapi milik temannya. Ketika pedet hasil ternak tersebut dijual, ia memperoleh sekitar Rp15 juta. Namun uang itu habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan keperluan lainnya.

Pengalaman tersebut membuat Feri mengubah cara pandang terhadap ternak. Hasil penjualan pedet tidak lagi semata-mata digunakan untuk kebutuhan konsumtif, tetapi diputar menjadi aset baru.

Titik perubahan terjadi pada 2016 setelah Feri mengenal Indra Wijaya, inseminator wilayah Kecamatan Sumberwringin. Dari pendampingan tersebut, Feri mengenal pola MAT PECI yang menempatkan pedet sebagai bagian dari strategi mempercepat pertumbuhan aset ternak.

Dalam praktiknya, pedet yang lahir dijual, kemudian hasil penjualannya digunakan membeli indukan yang telah siap kawin. Pola tersebut membuat Feri secara bertahap menambah jumlah ternaknya tanpa harus mengandalkan penambahan modal besar dari luar usaha.

Kini Feri memiliki 16 ekor sapi. Sebanyak dua ekor dipelihara sendiri, sedangkan 14 ekor lainnya digaduhkan kepada tujuh peternak. Sapi tersebut tersebar di wilayah Bondowoso hingga Kayumas, Situbondo. Pada 2020, sebagian hasil usaha ternak juga telah digunakan untuk membangun rumah dan membeli sepeda motor.

Dari sisi biaya produksi, kondisi geografis wilayah pegunungan menjadi salah satu faktor pendukung. Feri memanfaatkan rumput, daun dan pucuk jagung sebagai pakan, termasuk menanam rumput gajah di lahan kecil milik mertuanya. Dedak juga disebut relatif terjangkau sehingga biaya pemeliharaan dapat ditekan.

Feri bahkan membandingkan potensi pengembangan sapi dengan usaha pertanian. Dalam simulasinya, modal Rp50 juta untuk membeli tiga indukan sapi berpotensi berkembang menjadi sembilan ekor dalam dua tahun melalui pola MAT PECI. Dengan asumsi harga Rp15 juta per ekor, nilai aset diperkirakan mencapai Rp135 juta. Angka tersebut merupakan simulasi berdasarkan asumsi harga dan pola reproduksi, bukan jaminan keuntungan.

Indra Wijaya menjelaskan, persoalan pola konvensional adalah peternak membutuhkan waktu cukup panjang sejak memelihara pedet hingga sapi menjadi indukan produktif. Melalui MAT PECI, hasil penjualan pedet diarahkan untuk membeli indukan siap kawin sehingga siklus reproduksi dapat dipercepat.

Dalam simulasi Indra, satu indukan dengan pola konvensional diproyeksikan berkembang menjadi sekitar sembilan ekor dalam lima tahun. Sementara dengan MAT PECI, satu indukan disebut dapat berkembang menjadi 32 ekor indukan dalam periode yang sama. Dengan asumsi harga indukan Rp15 juta dan tambahan biaya tertentu, nilai aset dalam simulasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp418 juta.

Namun, tantangan berikutnya bukan sekadar membuktikan keberhasilan satu peternak, melainkan memastikan apakah pola tersebut dapat direplikasi secara konsisten pada skala lebih luas. Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Bondowoso menyatakan MAT PECI masih terbatas diterapkan di wilayah kerja Puskeswan Pujer.

Kepala Disnakan Bondowoso Hendri Widotono menyebut pemerintah daerah menyiapkan perluasan melalui sekolah lapang di sejumlah wilayah. Peternak yang telah berhasil seperti Feri akan dilibatkan sebagai contoh sekaligus pemateri bagi peternak lain.

Pengembangan MAT PECI juga dikaitkan dengan upaya pemulihan populasi sapi Bondowoso setelah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Hendri menyebut populasi sapi yang sebelumnya berada di kisaran 240 ribu ekor turun menjadi sekitar 141 ribu ekor berdasarkan data yang disebut berasal dari BPS.

Karena itu, keberhasilan Feri kini menjadi lebih dari sekadar kisah perubahan ekonomi seorang buruh tani. MAT PECI sedang diuji sebagai model pengembangan aset ternak rakyat. Tantangannya adalah membuktikan bahwa keberhasilan individu tersebut dapat diterapkan secara luas, terukur dan berkelanjutan bagi peternak Bondowoso.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.