Mahasiswa Unej Riset Reaktor Nuklir untuk Terapi Kanker

oleh -32 Dilihat
oleh
Mahasiswa Unej Riset Reaktor Nuklir untuk Terapi Kanker
Mahasiswa FMIPA UNEJ dengan kajian reaktor nuklir Actinium-225, radioisotop penting dalam terapi kanker modern, yang memperoleh Gold Medal AISEEF Kategori Physics, Energy, and Engineering
banner 468x60

JEMBER, Garudasatunews.id – Enam mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember mengkaji pemanfaatan reaktor nuklir untuk produksi radioisotop terapi kanker, di tengah keterbatasan riset nuklir nasional yang belum sepenuhnya siap diterapkan secara luas.

Kelompok mahasiswa yang terdiri dari Muhammad Husein Shodiq, Abdulloh Hasan Shodiq, Damar Nusantoro, Rahmatika Ramadhani, Muhammad Al Rizyad, dan Ag Galang Renda Arjuna meneliti potensi produksi Actinium-225, radioisotop pemancar radiasi alfa berenergi tinggi yang digunakan dalam metode Targeted Alpha Therapy (TAT).

Dalam kajian tersebut, mereka menambahkan thorium nitrida (ThN) ke dalam bahan bakar reaktor sebagai upaya meningkatkan peluang terbentuknya Actinium-225 melalui reaksi berantai nuklir. Pendekatan ini dinilai krusial untuk menjawab keterbatasan produksi isotop medis yang selama ini masih minim.

“Thorium ini seperti sumber awal dalam rantai reaksi pembentukan actinium, sehingga peluang produksinya bisa meningkat,” ujar Husein, Selasa (14/4/2026).

Tim peneliti memfokuskan kajian pada jenis Gas Cooled Fast Reactor (GFR), reaktor generasi lanjut yang menggunakan helium sebagai pendingin. Namun, hasil penelitian menunjukkan produksi Actinium-225 masih sangat terbatas, bahkan setelah reaktor beroperasi dalam waktu lama, menandakan adanya tantangan teknis signifikan dalam implementasinya.

Selain aspek produksi isotop, penelitian ini juga mencakup analisis distribusi panas dan komposisi bahan bakar berbasis uranium nitrida dan plutonium nitrida (UN-PuN) untuk memastikan keamanan dan efisiensi reaktor.

“Kami juga mengkaji kemungkinan produk lain dalam reaksi, karena Actinium hanya salah satu hasil,” tambahnya.

Kajian ini sekaligus menyoroti potensi pemanfaatan teknologi nuklir di sektor kesehatan, yang selama ini belum menjadi fokus utama pengembangan di Indonesia. Minimnya infrastruktur dan regulasi menjadi tantangan dalam mendorong realisasi riset semacam ini ke tahap implementasi.

Meski masih dalam tahap konseptual, riset tersebut berhasil meraih Gold Medal dalam ajang Asean Innovative Science Environmental and Entrepreneur Fair (AISEEF) kategori Physics, Energy, and Engineering pada 29 Januari 2026.

Tim peneliti menilai riset ini sebagai langkah awal untuk membuka peluang pemanfaatan nuklir di bidang medis. Namun, tanpa dukungan kebijakan dan pengembangan teknologi yang berkelanjutan, potensi tersebut berisiko berhenti pada tataran akademik semata. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.