Mahasiswa UNEJ Dorong Kopi dan Alpukat Tanahwulan Naik Kelas

oleh -13 Dilihat
oleh
Mahasiswa UNEJ Dorong Kopi dan Alpukat Tanahwulan Naik Kelas
Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Jember membuat Program Bumi Wana Mandiri, di Desa Tanahwulan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
banner 468x60

BONDOWOSO, Garudasatunews.id – Potensi kopi dan alpukat di Desa Tanahwulan, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, mulai diarahkan menjadi sumber penguatan ekonomi masyarakat melalui program Bumi Wana Mandiri yang digagas mahasiswa Universitas Jember (UNEJ). Program tersebut mendorong hasil perkebunan tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.

Program Bumi Wana Mandiri mengusung konsep optimalisasi pemberdayaan masyarakat desa hutan berbasis komoditas lokal agroforestri untuk mendorong kemandirian pangan dan ekonomi yang berkelanjutan. Program ini resmi diluncurkan melalui Grand Launching di halaman Masjid Yayasan Nurul Hasan, Desa Tanahwulan, Rabu (19/8/2026).

Langkah mahasiswa UNEJ tidak hanya menyasar peningkatan nilai jual kopi dan alpukat. Tim Pelaksana Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) BEM FKM UNEJ juga mengembangkan produk turunan alpukat berupa stik alpukat atau Poka-Poka serta teh berbahan daun alpukat.

Sementara itu, limbah kulit kopi yang selama ini berpotensi terbuang diarahkan menjadi pupuk organik cair. Skema tersebut memperlihatkan upaya menghubungkan potensi perkebunan dengan pengelolaan limbah sehingga komoditas lokal tidak hanya menghasilkan produk utama, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dari hasil sampingnya.

Ketua Tim PPK Ormawa BEM FKM UNEJ, Mashuda, mengatakan program tersebut disusun berdasarkan pemetaan potensi dan kebutuhan masyarakat melalui diskusi serta pelibatan warga. Pendampingan kepada masyarakat telah dimulai sejak awal Juli dan dijadwalkan berlanjut setelah peluncuran program.

“Desa Tanahwulan memiliki potensi lokal yang sangat besar, terutama kopi dan alpukat. Kami mencoba mengembangkan potensi tersebut agar tidak berhenti sebagai komoditas mentah,” kata Mashuda.

Program itu juga memasukkan aspek kesehatan masyarakat. Kader kesehatan diberdayakan melalui edukasi pencegahan stunting, pemanfaatan tensimeter digital untuk membantu pemantauan kondisi kesehatan, serta penggunaan aplikasi Nutricon untuk membantu kader memonitor status gizi anak.

Di sisi lain, mahasiswa UNEJ mengubah sebuah gudang menjadi ruang baca bagi para santri di lingkungan Yayasan Nurul Hasan. Langkah tersebut memperluas cakupan pemberdayaan dari sektor ekonomi ke literasi dan pendidikan.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNEJ, Dr. Fendi Setyawan, S.H., M.H., menilai Tanahwulan memiliki modal ekonomi kuat dari kopi dan alpukat. Menurutnya, tantangan berikutnya adalah memastikan komoditas tersebut dikemas dan dipasarkan secara lebih baik agar menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Fendi berharap keterampilan yang diberikan mahasiswa tidak berhenti ketika program berakhir. Masyarakat diharapkan mampu meneruskan dan mengembangkan inovasi tersebut sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Kepala Desa Tanahwulan, Edi Mulyono, juga menyambut positif program tersebut. Ia menyebut kegiatan PPK Ormawa sebagai pengalaman pertama bagi desa dan berharap kerja sama dengan UNEJ dapat berlanjut. Pemerintah desa, kata dia, akan berupaya meneruskan program yang telah dirintis mahasiswa untuk mendukung ekonomi desa.

Dengan demikian, keberlanjutan menjadi titik penting dari program Bumi Wana Mandiri. Nilai program bukan hanya diukur dari peluncuran produk, tetapi dari kemampuan masyarakat mengelola kopi, alpukat, limbah, kesehatan, dan literasi secara mandiri setelah pendampingan mahasiswa selesai.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.