Mahar Rp580 Juta, Pernikahan WNA Taiwan Viral

oleh -43 Dilihat
oleh
Mahar Rp580 Juta, Pernikahan WNA Taiwan Viral
Pernikahan seorang warga negara asing (WNA) asal Taiwan dengan gadis asal lereng Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, Kamis (4/6/2026)
banner 468x60

MAGETAN, Garudasatunews.id – Pernikahan seorang warga negara asing (WNA) asal Taiwan dengan perempuan asal lereng Gunung Lawu, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, menjadi sorotan publik setelah video prosesi akad nikah keduanya viral di berbagai platform media sosial dalam beberapa hari terakhir. Selain melibatkan pasangan beda kewarganegaraan, perhatian masyarakat juga tertuju pada nilai mahar yang mencapai Rp580 juta.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, akad nikah berlangsung di Desa Gonggang, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, pada Kamis (4/6/2026). Prosesi tersebut digelar secara resmi dengan nuansa adat Jawa dan dihadiri keluarga kedua mempelai serta perangkat setempat.

Mempelai pria diketahui bernama Hsu Kuang Chi (29), warga Taiwan yang bekerja sebagai nahkoda kapal. Sementara mempelai perempuan adalah Rizky Anggraini (23), warga Magetan yang selama sekitar dua tahun terakhir bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Taiwan.

Keterangan yang diperoleh dari keluarga menyebutkan, hubungan keduanya bermula saat Rizky bekerja di Taiwan. Setelah menjalani proses perkenalan dan hubungan yang cukup lama, pasangan tersebut memutuskan melangsungkan pernikahan secara resmi di Indonesia.

Atmoredjo Sudji (71), kakek mempelai perempuan, mengungkapkan rasa syukur atas pernikahan cucunya yang kini telah membangun rumah tangga bersama warga negara Taiwan tersebut. Menurutnya, proses administrasi pernikahan lintas negara membutuhkan waktu dan tahapan yang cukup panjang.

“Saya bersyukur cucu saya akhirnya bisa menikah dengan WNA asal Taiwan dengan mahar 580 juta rupiah setelah nikah langsung kembali ke Taiwan,” ujar Atmoredjo.

Dari penelusuran informasi yang disampaikan keluarga, pengurusan dokumen dan persyaratan pernikahan antara WNI dan WNA berlangsung sekitar tiga bulan hingga seluruh administrasi dinyatakan lengkap dan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Fakta lain yang turut menjadi perhatian adalah besarnya nilai mahar yang diberikan mempelai pria. Berdasarkan keterangan sejumlah pihak di wilayah setempat, nilai Rp580 juta tersebut dinilai sangat besar dibandingkan rata-rata mahar pernikahan yang biasa tercatat di kawasan Kecamatan Poncol.

Ketua RT setempat, Arik Setyawan, mengatakan pernikahan tersebut menjadi peristiwa yang jarang terjadi di lingkungan tempat tinggal mereka. Selain melibatkan pasangan beda negara, nilai mahar yang diberikan juga memunculkan perhatian masyarakat.

“Kami ikut bahagia anak gadis gunung dinikahi WNA, maharnya 580 juta,” kata Arik.

Sementara itu, Penghulu Kecamatan Poncol, Adi Winarto, membenarkan bahwa pernikahan tersebut telah tercatat secara resmi. Ia menyebut nilai mahar yang diberikan mempelai pria merupakan yang terbesar yang pernah diketahuinya selama menangani pernikahan di wilayah tersebut.

“Benar telah berlangsung pernikahan gadis lokal dengan WNA Taiwan, mahar 580 juta menjadi terbesar selama adanya pernikahan di wilayah sini,” ujar Adi Winarto.

Selain besarnya mahar, kisah hidup mempelai perempuan juga menjadi perhatian warga. Rizky diketahui dibesarkan oleh sang kakek sejak masih bayi. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah kejuruan, ia memilih bekerja di luar negeri sebagai PMI hingga akhirnya bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya.

Fenomena pernikahan antara WNI dan WNA sendiri bukan hal baru, khususnya di daerah yang memiliki jumlah pekerja migran cukup besar. Namun, perpaduan antara kisah perjuangan seorang PMI, proses pernikahan lintas budaya, serta nilai mahar yang mencapai ratusan juta rupiah menjadikan pernikahan ini banyak diperbincangkan masyarakat.

Usai melangsungkan akad nikah dan rangkaian acara keluarga di Magetan, pasangan tersebut dilaporkan kembali ke Taiwan pada Sabtu (6/6/2026). Keluarga berharap keduanya dapat membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis serta tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga besar di Indonesia.

Viralnya pernikahan ini juga menunjukkan bagaimana mobilitas pekerja migran Indonesia dapat membuka ruang interaksi lintas budaya yang berujung pada ikatan keluarga antarnegara yang sah secara hukum, sekaligus menjadi perhatian publik karena nilai mahar yang tidak lazim di wilayah pedesaan setempat.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.