SIDOARJO, Garudasatunews.id – Pementasan Ludruk Tjap Adipati Terung di area Pabrik Gula Candi Baru Sidoarjo, Senin (6/4/2026), bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi penegasan kuat bahwa seni tradisional masih memiliki daya tarik di tengah dominasi hiburan modern.
Mengangkat lakon Sarip Tambakoso yang disutradarai Didik Jogoyudho, pertunjukan ini langsung menyedot perhatian sejak gamelan pertama dibunyikan. Penonton yang memadati lokasi dibuat terpaku oleh kemunculan penari yang disusul kidungan jula juli khas ludruk.
Kekuatan utama pertunjukan terletak pada perpaduan dialog jenaka namun sarat kritik sosial, akting total para pemain, serta iringan gamelan dinamis yang membangun suasana dramatik. Komposisi musik yang digarap Zul Hazrat turut mempertegas emosi di setiap adegan.
Di balik kesuksesan ini, terdapat kolaborasi lintas kelompok seni yang terorganisir. Karawitan Paguyuban Sri Kahuripan Sidoarjo menghadirkan gending yang solid, sementara Sanggar Lintang Kencana Sidoarjo memperkuat visual melalui koreografi tari yang terstruktur.
Dukungan Dewan Kesenian Sidoarjo menjadi faktor penting yang memperlihatkan adanya peran institusional dalam menjaga eksistensi budaya lokal. Kehadiran ratusan penonton dari berbagai kalangan—mulai pekerja pabrik hingga pecinta seni—menjadi indikator nyata bahwa ludruk masih memiliki basis penonton yang kuat.
Namun di balik euforia tersebut, pementasan ini juga menjadi cerminan bahwa keberlangsungan seni tradisional sangat bergantung pada momentum acara dan dukungan pihak tertentu, bukan sistem yang berkelanjutan.
Humas Ludruk Tjap Adipati Terung, Joko Susilo, mengakui tingginya antusiasme penonton menjadi dorongan moral bagi kelompoknya untuk terus bertahan di tengah tantangan zaman.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk industri dan pemerintah, agar ludruk tidak hanya tampil sesekali, tetapi tetap hidup sebagai identitas budaya daerah.
Pertunjukan ditutup dengan tepuk tangan meriah yang mengukuhkan keberhasilan pementasan, sekaligus menyisakan catatan bahwa pelestarian ludruk masih membutuhkan komitmen nyata, bukan sekadar seremoni.
(Red-Garudasatunews)














