Sudamala Hidupkan Sejarah Kediri

oleh -19 Dilihat
oleh
Sudamala Hidupkan Sejarah Kediri
Malam merambat pelan di kawasan wisata Candi Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri. Namun, alih-alih sepi, pelataran situs purbakala tersebut justru tampak hidup dan berpendar oleh sorotan lampu panggung yang estetik.
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Pemerintah Kabupaten Kediri memanfaatkan panggung budaya di kawasan Candi Tegowangi, Kecamatan Plemahan, sebagai strategi memperkuat literasi sejarah dan budaya bagi generasi muda di tengah derasnya arus digitalisasi yang dinilai mulai menjauhkan anak muda dari akar tradisi lokal.

Pagelaran seni budaya bertajuk “Inspiration Art of Tegowangi” yang digelar di pelataran situs purbakala tersebut menyedot ribuan pengunjung. Sorotan lampu artistik, irama gamelan, dan tarian bertema kisah Sudamala menjadikan kompleks candi berusia ratusan tahun itu berubah menjadi ruang pertunjukan budaya terbuka.

Namun di balik kemasan hiburan malam hari, kegiatan tersebut membawa misi lebih besar, yakni menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap sejarah Kediri yang mulai tergerus pola konsumsi informasi instan di media digital.

Candi Tegowangi malam itu tidak hanya menjadi latar pertunjukan, tetapi juga dijadikan medium penyampaian pesan moral dan spiritual warisan leluhur Kediri melalui relief-relief kuno yang masih terjaga.

Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Sonny Subroto Maheri Laksono, menegaskan kisah Sudomolo atau Sudamala yang diangkat dalam pertunjukan mengandung pesan penyucian diri, pertobatan, dan kemenangan nilai kebaikan atas kejahatan.

“Di sini terukir kisah besar Sudomolo yang mengajarkan tentang penyucian diri, tobat, dan kemenangan kebaikan atas kejahatan,” ujar Sonny di hadapan penonton.

Pemkab Kediri menilai tantangan terbesar pelestarian budaya saat ini terletak pada cara menghadirkan sejarah agar tetap relevan bagi Generasi Z dan Generasi Alpha tanpa menghilangkan nilai sakralnya. Karena itu, pertunjukan dikemas lebih modern dengan pendekatan visual dan pengalaman langsung di lokasi situs sejarah.

Sonny menyoroti kecenderungan generasi muda yang lebih mengenal sejarah melalui potongan konten media sosial berdurasi pendek yang validitas informasinya sering kali tidak terverifikasi. Pemerintah daerah, kata dia, ingin menghadirkan alternatif edukasi berbasis pengalaman nyata melalui interaksi langsung dengan situs budaya.

“Mereka perlu melihat langsung, belajar langsung, dan merasakan sendiri kekayaan budaya yang dimiliki Kediri,” tegasnya.

Selain menjadi ruang edukasi budaya, pagelaran tersebut juga memunculkan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar kawasan wisata Candi Tegowangi. Puluhan pelaku UMKM dan pedagang kuliner lokal tampak memadati area pertunjukan untuk melayani ribuan pengunjung yang datang sejak sore hingga malam hari.

Aktivitas ekonomi warga meningkat seiring ramainya transaksi di stan makanan, kerajinan, hingga produk lokal khas Plemahan. Kondisi itu memperlihatkan bahwa kegiatan kebudayaan tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian sejarah, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat bawah.

Melalui agenda budaya yang digelar rutin tersebut, Pemkab Kediri berupaya memastikan identitas sejarah dan kesenian daerah tetap hidup serta tidak kehilangan ruang di tengah dominasi budaya digital modern.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.