SURABAYA, Garudasatunews.id – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur mempercepat langkah peningkatan mutu perguruan tinggi dengan menekankan pencetakan lulusan yang memiliki daya saing, relevan dengan kebutuhan dunia kerja, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Komitmen tersebut menjadi fokus utama dalam Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) 2026 yang diikuti 321 pimpinan perguruan tinggi negeri dan swasta di Hotel Morazen Surabaya, Senin (22/6/2026).
Dalam forum evaluasi dan penguatan kebijakan pendidikan tinggi tersebut, sejumlah indikator kinerja perguruan tinggi menjadi perhatian, mulai dari peningkatan kualitas akademik, penguatan sumber daya manusia, hingga optimalisasi peran kampus dalam menjawab tantangan pembangunan daerah dan nasional.
Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Sawitri, mengungkapkan program Kakak Tangguh (Kampus untuk Komunitas Lebih Tangguh) menjadi strategi utama dalam mendorong lahirnya sumber daya manusia unggul yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
“Kakak Tangguh adalah fondasi kuat untuk menghasilkan SDM unggul yang punya kontribusi nyata untuk masyarakat, bangsa, dan negara,” kata Dyah.
Untuk memastikan program berjalan efektif, LLDIKTI Wilayah VII melakukan pemetaan wilayah Jawa Timur menjadi tiga zona, yakni Pantura, Arek-arek, dan Mataraman. Pembagian tersebut dilakukan agar implementasi program dapat disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan masing-masing daerah.
“Pemetaan itu menjadi kekuatan tersendiri bagi kita untuk mengimplementasikan Kakak Tangguh sebagai agen perubahan,” tegasnya.
Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) menegaskan dukungan terhadap peningkatan akses dan mutu pendidikan tinggi melalui berbagai skema pembiayaan, termasuk program Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan beasiswa pendidikan doktor bagi dosen.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Pembiayaan dan Asesmen Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Eng. Sandro Mihradi, menyebut pemerintah terus memperluas kesempatan masyarakat kurang mampu untuk mengakses pendidikan tinggi serta memperkuat kapasitas tenaga pengajar di perguruan tinggi.
“Kami membantu pembiayaan beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu lewat program KIP Kuliah serta beasiswa pendidikan doktor bagi dosen,” ujar Sandro.
Secara nasional, alokasi KIP Kuliah pada tahun ini menyasar sekitar 200 ribu mahasiswa, sedangkan program beasiswa doktor diperuntukkan bagi sekitar seribu dosen di berbagai perguruan tinggi. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi secara berkelanjutan.
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek, Prof. Dr. Mukhamad Nadjib, menegaskan peningkatan jumlah perguruan tinggi dengan akreditasi unggul menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kualitas lulusan dan memastikan mahasiswa penerima KIP Kuliah memperoleh akses pendidikan yang layak.
“Ini komitmen mutu kita bersama, agar mahasiswa KIP Kuliah bisa belajar di tempat bermutu dan lulusannya tidak menambah pengangguran,” tuturnya.
Nadjib mengungkapkan tantangan utama peningkatan mutu perguruan tinggi masih berkaitan dengan keterbatasan jumlah dosen berkualifikasi doktor. Dari sekitar 300 ribu dosen di Indonesia, baru sekitar 25 persen yang telah menempuh pendidikan doktoral.
“Makanya ada program beasiswa S3 untuk meningkatkan komponen penting dari kualitas, yaitu kualifikasi dosen,” paparnya.
Selain penguatan kualitas tenaga pendidik, pemerintah juga meningkatkan dukungan terhadap pengembangan riset perguruan tinggi. Pada tahun ini, Jawa Timur memperoleh alokasi dana penelitian lebih dari Rp120 miliar yang diarahkan untuk memperkuat inovasi akademik, menghasilkan riset yang berdampak, serta mendukung pembangunan daerah dan nasional.
(Red-Garudasatunews)
















