Limbah Peternakan Desa Tales Diolah Jadi Maggot

oleh -29 Dilihat
oleh
Limbah Peternakan Desa Tales Diolah Jadi Maggot
Sosialisasi dan praktik budidaya Black Soldier Fly (BSF) atau maggot yang dilaksanakan oleh Tim Dosen Pulang Kampung IPB University.
banner 468x60

KEDIRI, Garudasatunews.id – Limbah organik yang selama ini berpotensi menjadi persoalan lingkungan mulai dimanfaatkan sebagai peluang usaha oleh petani dan peternak di Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Salah satu inovasinya adalah budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak, khususnya ikan.

Budidaya tersebut dikembangkan Kelompok Swadaya Mina Tales Berkarya. Inisiatif itu berangkat dari persoalan sampah organik sekaligus kebutuhan pakan ikan yang cenderung mahal. Desa Tales sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki aktivitas peternakan lele.

Pengelola budidaya, Samsun Arizal, menjelaskan pemanfaatan sampah organik menjadi maggot awalnya dilakukan untuk mengurangi limbah yang terbuang percuma. Sampah dari lingkungan warga kemudian dikumpulkan dan diproses sebagai media budidaya.

Langkah tersebut sekaligus membuka peluang ekonomi baru. Maggot hasil budidaya dapat dipanen dan dijual sebagai pakan ikan. Dengan demikian, limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat masuk ke dalam rantai ekonomi masyarakat.

Namun, pengelolaan sampah dari sumbernya masih menjadi tantangan. Sampah yang dikumpulkan warga belum seluruhnya dipilah antara organik dan anorganik. Kondisi tersebut membuat pengelola harus melakukan penyortiran secara manual sebelum sampah organik digunakan untuk budidaya.

Pengembangan budidaya maggot juga tidak berlangsung instan. Ariz memulainya sejak Desember 2018 dari rumah pribadi. Karena keterbatasan tempat dan pertimbangan lingkungan sekitar, lokasi budidaya sempat berpindah hingga akhirnya memperoleh dukungan pemerintah desa untuk memanfaatkan tanah kas desa yang sebelumnya merupakan bekas pasar.

Di lokasi tersebut, budidaya maggot dilakukan melalui sejumlah tahapan. Sampah organik ditempatkan sebagai media pakan larva, sementara lalat tentara hitam dikembangbiakkan untuk menghasilkan telur yang kemudian menetas menjadi larva.

Menurut Ariz, lalat Black Soldier Fly berbeda dari lalat rumah karena pada fase dewasa tidak mengonsumsi makanan seperti lalat rumah. Dalam proses budidaya, lalat juga membutuhkan kondisi lingkungan tertentu untuk berkembang dan bertelur.

Dari sisi produksi, budidaya maggot di Desa Tales disebut mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 100 kilogram maggot per hari, bergantung pada kondisi cuaca. Saat cuaca panas, produksi dapat mencapai sekitar 100 kilogram. Hasil panen tersebut kemudian dijual sekitar Rp6.000 per kilogram.

Model ini menunjukkan bahwa persoalan limbah dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif apabila didukung pengelolaan yang konsisten. Di sisi lain, keberhasilan budidaya juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.

Karena itu, budidaya maggot tidak sekadar berbicara soal pakan alternatif atau peluang usaha. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berjalan berkelanjutan, sehingga manfaat ekonominya sejalan dengan tujuan mengurangi limbah lingkungan.

Pengalaman Kelompok Swadaya Mina Tales Berkarya memperlihatkan bahwa sampah organik memiliki nilai ekonomi ketika dikelola dengan teknologi sederhana, keterampilan, dan sistem pengumpulan yang terorganisasi.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.