Kopi Agroforestri Prigen Tembus Permintaan Puluhan Ton

oleh -41 Dilihat
oleh
Kopi-Agroforestri-Prigen-Tembus-Permintaan-Puluhan-Ton
Kopi-Agroforestri-Prigen-Tembus-Permintaan-Puluhan-Ton
banner 468x60

PASURUAN, Garudasatunews.id – Tiga kelompok perhutanan sosial di Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, terus memperkuat pengelolaan kawasan hutan negara melalui skema Perhutanan Sosial yang difasilitasi pemerintah. Melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KOUPS), masyarakat mengembangkan sistem agroforestri dengan komoditas utama kopi yang dinilai mampu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan.

Tiga lembaga yang menjalankan pengelolaan kawasan hutan KHDPA tersebut terdiri atas LPHD Lokajaya Binangun, LPHD Arjuna Lestari, dan KTH Sumber Makmur Abadi. Ketiganya mengelola usaha berbasis hasil hutan bukan kayu dengan pola tanam di bawah tegakan hutan.

Perwakilan LPHD Lokajaya Binangun Desa Dayurejo, Sugito, mengatakan KOUPS menjadi unit usaha yang mengoptimalkan pemanfaatan kawasan hutan melalui praktik agroforestri yang memadukan aspek konservasi dan peningkatan ekonomi masyarakat.

“Di wilayah Prigen ini ada tiga kelompok perhutanan sosial, yakni LPHD Lokajaya Binangun, LPHD Arjuna Lestari, dan KTH Sumber Makmur Abadi yang mengelola kawasan hutan KHDPA. Di dalam lembaga ini, kami memiliki unit usaha bernama KOUPS yang menjalankan usaha agroforestri terkait hasil hutan,” ujar Sugito.

Menurutnya, kopi menjadi komoditas unggulan yang dikembangkan karena memiliki nilai jual tinggi. Selain kopi, petani juga membudidayakan tanaman produktif lain seperti alpukat, petai, dan sirsak sebagai sumber pendapatan tambahan ketika musim panen kopi belum tiba.

Sugito menyebut hasil panen kopi mampu memberikan nilai ekonomi yang signifikan bagi petani. Berdasarkan capaian panen sebelumnya, seorang petani dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp30 juta hingga Rp40 juta dalam satu kali panen kopi red cherry atau petik merah.

“Rata-rata kemarin saja satu petani sampai bisa mendapatkan Rp30 hingga Rp40 juta per panen kopi red cherry atau petik merah. Mereka jadi lebih gencar untuk menanam kopi di bawah tegakan karena hasilnya sangat membantu ekonomi,” katanya.

Di sisi pemasaran, hasil panen kopi dari kelompok perhutanan sosial tersebut masih diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal di Kabupaten Pasuruan. Produk green bean yang dihasilkan telah dipasarkan melalui kerja sama dengan sejumlah pelaku usaha, di antaranya Tembakar, Kaliandra, dan Jendela Langit.

Meski demikian, Sugito mengungkapkan permintaan pasar terhadap green bean terus meningkat dan belum sepenuhnya dapat dipenuhi akibat keterbatasan kapasitas produksi kelompok tani.

“Untuk produk green bean, pesanan dari teman-teman luar wilayah sangat tinggi sampai kami sempat kewalahan memenuhinya. Bahkan, ada permintaan hingga 50 ton dari Gayo, Sumatera, namun saat ini kami baru mampu menyuplai dalam kapasitas tertentu,” ungkapnya.

Informasi mengenai nilai permintaan tersebut merupakan keterangan dari perwakilan kelompok perhutanan sosial. Hingga berita ini ditulis, belum terdapat data resmi yang dipublikasikan mengenai total realisasi produksi maupun volume distribusi tahunan kelompok tersebut.

Pengelola berharap penguatan kelembagaan KOUPS dan pengembangan sistem agroforestri dapat terus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan tanpa mengabaikan fungsi konservasi. Model pengelolaan tersebut juga diharapkan menjadi contoh pemanfaatan hutan secara berkelanjutan dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara aspek ekonomi dan kelestarian lingkungan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.