JOMBANG, Garudasatunews.id – Kisah KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab menjelang wafat kembali menjadi bagian penting dari sejarah Nahdlatul Ulama (NU). Ulama sekaligus salah satu pendiri NU itu disebut meminta agar ajalnya ditunda hingga menyelesaikan tanggung jawab organisasi sebagai Rais Aam PBNU dalam Muktamar ke-25 NU di Surabaya pada 1971.
Kisah tersebut dikenal sebagai salah satu karomah Mbah Wahab. Dalam sejumlah riwayat, ulama kelahiran Jombang itu mengalami kondisi kritis ketika berusia 83 tahun. Kondisinya bahkan membuat keluarga dan para santri bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Di tengah kondisi tersebut, KH Bisri Syansuri datang menjenguk Mbah Wahab. Keduanya merupakan tokoh penting dalam sejarah NU. Dalam percakapan yang kemudian banyak diceritakan kembali, Kiai Bisri meminta Mbah Wahab agar tidak meninggal terlebih dahulu karena masih memiliki “utang” kepada NU.
Mbah Wahab kemudian menanyakan utang yang dimaksud. Kiai Bisri menjawab bahwa Mbah Wahab masih harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban atau LPJ sebagai Rais Aam dalam Muktamar NU yang akan segera digelar.
Riwayat tersebut menggambarkan bagaimana tanggung jawab organisasi ditempatkan sebagai amanah yang harus dituntaskan. Setelah percakapan itu, kondisi Mbah Wahab disebut berangsur membaik. Ia kemudian kembali menjalankan aktivitas organisasi hingga Muktamar ke-25 NU berlangsung di Surabaya pada 20-25 Desember 1971.
Dalam forum tersebut, LPJ Mbah Wahab sebagai Rais Aam disampaikan dan diterima oleh muktamirin. Ia bahkan kembali dipercaya mengemban jabatan sebagai Rais Aam. Dengan selesainya pertanggungjawaban itu, amanah organisasi yang disebut sebagai “utang” tersebut dianggap telah dituntaskan.
Namun, tidak lama setelah Muktamar NU berakhir, kabar duka datang. Mbah Wahab wafat pada 29 Desember 1971, hanya beberapa hari setelah Muktamar selesai. Sejumlah sumber menyebut wafatnya terjadi sebelum para peserta muktamar sempat tiba di kediamannya.
Kisah “negosiasi dengan Malaikat Izrail” tersebut merupakan bagian dari riwayat dan penuturan tentang karomah Mbah Wahab, bukan peristiwa yang dapat diverifikasi secara empiris. Dalam penuturan kalangan NU, kisah itu lebih ditekankan sebagai gambaran keteguhan seorang ulama dalam menuntaskan amanah organisasi hingga akhir hayat.
KH Abdul Wahab Chasbullah sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU dan memiliki peran besar dalam perjalanan organisasi tersebut. Karena itu, kisah menjelang wafatnya terus dikenang sebagai teladan mengenai komitmen, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap perjuangan NU.
(Red-Garudasatunews)














