Kemarau Jadi Momentum Pemkab Gresik Keruk Waduk dan Sungai

oleh -43 Dilihat
oleh
Kemarau Jadi Momentum Pemkab Gresik Keruk Waduk dan Sungai
Alat berat excavator melakukan normalisasi Kali Lamong untuk mencegah meluapnya air ke pemukiman warga.
banner 468x60

GRESIK, Garudasatunews.id – Pemerintah Kabupaten Gresik memanfaatkan musim kemarau untuk mempercepat normalisasi waduk dan saluran sungai sebagai langkah mitigasi menghadapi potensi banjir saat musim penghujan. Sebanyak 12 alat telah diturunkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Gresik untuk mengerjakan sejumlah titik, termasuk anak Sungai Kali Lamong dan beberapa waduk yang mengalami pendangkalan.

Normalisasi dilakukan dengan tujuan meningkatkan kapasitas tampungan air. Waduk yang mengalami sedimentasi atau pendangkalan dikeruk agar mampu menampung debit air lebih besar ketika hujan kembali meningkat.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani mengatakan pengerjaan tersebut merupakan bagian dari langkah mitigasi jangka panjang. Menurutnya, musim kemarau menjadi momentum untuk membenahi infrastruktur pengendali dan penyimpan air sebelum memasuki musim penghujan.

“Waduk juga sedang kita kerjakan. Seperti yang disampaikan Pak Kades, di Dohoagung, Kedungpring itu juga sedang kita kerjakan waduknya karena musim kemarau ini sudah dangkal,” ujar Yani.

Langkah tersebut menjadi penting karena persoalan sumber daya air di Gresik tidak hanya berkaitan dengan kekeringan. Data DPUTR yang diberitakan pada Agustus 2026 menunjukkan sebanyak 156 waduk mengalami kekeringan, sementara 115 daerah irigasi juga mulai mengering. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas pertanian dan ketersediaan air pada musim tanam berikutnya.

Di sisi lain, normalisasi waduk dan sungai juga memiliki fungsi strategis ketika musim hujan tiba. Kapasitas tampungan yang lebih besar diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap saluran air ketika debit meningkat, sehingga risiko genangan maupun luapan dapat ditekan.

Persoalan banjir di Gresik sebelumnya juga berkaitan dengan kondisi waduk yang mengalami pendangkalan. Waduk Telogo Dendo dan kawasan boezem Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP), misalnya, pernah menjadi perhatian karena kapasitas tampung yang menurun dan berpotensi menyebabkan limpasan ketika hujan deras.

Karena itu, efektivitas program normalisasi tidak hanya bergantung pada pengerukan. Pemeliharaan saluran, pengendalian sedimentasi, kebersihan drainase, serta pengawasan kapasitas tampungan perlu berjalan berkelanjutan agar persoalan yang sama tidak kembali muncul ketika curah hujan meningkat.

Pemkab Gresik juga menyatakan normalisasi waduk dan saluran air merupakan bagian dari persiapan menghadapi siklus musim berikutnya. Pemerintah daerah meminta masyarakat turut menyampaikan informasi apabila terdapat persoalan air di wilayah masing-masing agar penanganan dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan.

Dengan demikian, pengerukan saat kemarau bukan semata pekerjaan infrastruktur, tetapi menjadi bagian dari upaya menyiapkan sistem pengelolaan air Gresik menghadapi dua ancaman sekaligus: kekeringan pada musim kemarau dan potensi banjir ketika musim hujan tiba.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.