Kedok Sumbangan, Pria Cabuli Anak di Tuban

oleh -30 Dilihat
oleh
Kedok Sumbangan, Pria Cabuli Anak di Tuban
Pelaku saat diamankan Satreskrim Polres Tuban.
banner 468x60

TUBAN, Garudasatunews.id – Kejahatan seksual terhadap anak dengan modus sosial kembali terungkap di wilayah pedesaan. Dua bocah perempuan berusia 5 dan 6 tahun di Desa Jatisari, Kecamatan Senori, Kabupaten Tuban, menjadi korban pencabulan oleh seorang pria yang berpura-pura meminta sumbangan keliling.

Pelaku berinisial AG (30), warga Kelurahan Palebon, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah, diduga telah merencanakan aksinya dengan memanfaatkan celah minimnya pengawasan orang dewasa di lingkungan permukiman.

Kasi Humas Polres Tuban, IPTU Siswanto, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengungkapkan, peristiwa terjadi pada Senin, 30 Maret 2026 sekitar pukul 10.30 WIB saat pelaku berkeliling desa membawa ember untuk meminta sumbangan.

“Pelaku mendatangi salah satu rumah dan melihat dua anak perempuan sedang duduk di depan rumah. Ia sempat berteriak meminta sumbangan, namun tidak ada respons dari dalam rumah,” ujarnya, Selasa (07/04/2026).

Situasi sepi tanpa pengawasan itu diduga sengaja dimanfaatkan pelaku untuk melancarkan aksi bejatnya. Kedua korban yang masih di bawah umur tidak memiliki perlindungan saat pelaku mulai melakukan tindakan cabul.

Peristiwa ini terungkap setelah seorang warga berinisial AGH melaporkan kejadian tersebut ke Satreskrim Polres Tuban. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan hingga pelaku berhasil diamankan.

Dalam proses penangkapan, polisi menyita sejumlah barang bukti yang menguatkan dugaan tindak pidana tersebut, yakni satu kemeja batik lengan panjang warna krem hitam, sarung abu-abu gelap, peci hitam, serta ember yang digunakan sebagai alat meminta sumbangan.

Publik juga mempertanyakan logika yang melatarbelakangi perang tersebut. Kurang lebih 59,4 persen tidak percaya bahwa perang adalah sesuatu yang tak terhindarkan. Ada 66,4 persen yang meragukan narasi bahwa Iran menindas rakyatnya. Sekitar 55,3 persen juga dan tidak menerima begitu saja pembenaran atas pembunuhan elite politik di Iran.

“Artinya, publik Indonesia tidak menelan mentah-mentah narasi yang sering dibangun untuk membenarkan perang. Mereka menjaga jarak, dan dalam jarak itu, mereka berpikir,” kata Agus.

Agus menganggap ini adalah momentum penting untuk memahami bangsa Indonesia. “Bukan hanya soal perang Publik sudah menunjukkan arah, mereka menolak perang, mereka meragukan narasi kekerasan, dan mereka berhati-hati terhadap keterlibatan yang tidak jelas,” katanya.(Red – Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.