KBS Didorong Perkuat Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman

oleh -63 Dilihat
oleh
KBS Didorong Perkuat Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman
KBS Didorong Perkuat Wisata Edukasi Berbasis Pengalaman
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Kebun Binatang Surabaya (KBS) dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata edukasi unggulan di Jawa Timur melalui pengembangan konsep experiential tourism atau wisata berbasis pengalaman. Langkah tersebut dinilai penting di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin kompetitif dan perubahan pola kunjungan wisatawan yang tidak lagi hanya berorientasi pada objek wisata semata.

Program Coordinator Creative Tourism Universitas Kristen Petra (UK Petra), Devi Destiani Andilas, S.E., MM.Par., menegaskan bahwa peningkatan jumlah pengunjung belum tentu menjadi indikator utama keberhasilan sebuah destinasi wisata. Menurutnya, tantangan terbesar bagi KBS saat ini adalah menciptakan pengalaman baru yang mampu memberikan nilai edukasi sekaligus mendorong pengunjung untuk datang kembali.

“Kebun binatang konvensional memang selama ini mengandalkan tiket masuk dan atraksi sederhana. Padahal, masih banyak pengalaman yang bisa diciptakan sehingga pengunjung tidak merasa datang ke tempat yang sama dengan aktivitas yang sama,” ujar Devi.

Sebagai salah satu kebun binatang tertua di Indonesia yang berdiri sejak 31 Agustus 1916, KBS memiliki modal sejarah, koleksi satwa, serta area yang luas untuk dikembangkan menjadi pusat wisata edukasi modern. Namun, di tengah munculnya berbagai destinasi wisata baru, inovasi produk dinilai menjadi kebutuhan mendesak agar daya saing KBS tetap terjaga.

Salah satu gagasan yang disoroti adalah pengembangan program behind the scene tour. Melalui konsep ini, pengunjung tidak hanya melihat koleksi satwa, tetapi juga memperoleh akses edukatif untuk memahami proses pengelolaan kebun binatang dari balik layar.

Menurut Devi, konsep tersebut dapat memberikan wawasan mengenai profesi penjaga satwa (keeper), proses perawatan harian, pemberian pakan, hingga pemeriksaan kesehatan satwa. Pengalaman seperti itu dinilai mampu menciptakan nilai tambah yang lebih kuat dibanding kunjungan wisata biasa.

Selain itu, pola interaksi antara pengunjung dan satwa juga dinilai perlu dikembangkan menjadi lebih edukatif. Selama ini aktivitas memberi makan satwa masih terbatas pada kegiatan sederhana. Padahal, proses tersebut dapat dikemas menjadi sarana pembelajaran mengenai nutrisi, kebutuhan gizi, hingga karakteristik masing-masing spesies.

“Kalau pengunjung dilibatkan dalam prosesnya, mereka akan memperoleh pengalaman sekaligus pengetahuan. Ini tentu jauh lebih bernilai daripada sekadar memberi makan satwa,” katanya.

Dari sisi pengelolaan destinasi, Devi juga menyoroti peluang besar pada sektor wisata pendidikan melalui penerapan sistem membership berbasis kurikulum sekolah. Berdasarkan pengamatannya, banyak sekolah di Surabaya dan daerah sekitar yang secara rutin mengadakan kunjungan edukasi ke KBS. Namun, sebagian besar kegiatan tersebut masih bersifat insidental dan belum terintegrasi dengan proses pembelajaran berkelanjutan.

Karena itu, ia mendorong tim pemasaran KBS untuk menyusun paket keanggotaan khusus bagi sekolah yang disesuaikan dengan materi pembelajaran di setiap jenjang pendidikan. Dengan skema tersebut, kunjungan siswa dapat dilakukan beberapa kali dalam setahun dengan tema yang berbeda sesuai kurikulum.

Misalnya, saat siswa mempelajari metamorfosis, rantai makanan, reptil, atau konservasi satwa, KBS dapat menghadirkan program edukasi yang relevan dengan materi tersebut. Model ini dinilai tidak hanya meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil melalui jadwal kunjungan rutin.

Dari perspektif pengembangan usaha, optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia juga dianggap lebih strategis dibanding ekspansi lahan baru. Area terbuka yang dimiliki KBS berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan komunitas, keluarga, maupun acara korporasi yang dapat menjadi sumber pemasukan tambahan di luar penjualan tiket.

Selain itu, penyelenggaraan program tematik secara berkala dinilai dapat menjadi daya tarik baru bagi masyarakat. Kegiatan seperti edukasi konservasi, tur koleksi kerangka satwa, hingga program bertema sejarah dan pengelolaan satwa dapat dikemas sebagai agenda musiman yang terus berganti.

Pendekatan tersebut sejalan dengan tren pariwisata modern yang menempatkan pengalaman, pengetahuan, dan keterlibatan pengunjung sebagai faktor utama dalam menentukan minat kunjungan ulang.

Dengan pengembangan produk wisata yang lebih kreatif, penerapan konsep experiential tourism, serta pembentukan program membership edukasi yang berkelanjutan, KBS dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat daya saingnya sebagai pusat wisata edukasi dan konservasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.