Karhutla Semeru Ancam Satwa, Kijang dan Sigung Ditemukan Mati

oleh -38 Dilihat
oleh
Karhutla Semeru Ancam Satwa, Kijang dan Sigung Ditemukan Mati
Petugas menemukan kerangka hewan Kijang diduga mati terbakar.
banner 468x60

LUMAJANG, Garudasatunews.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lereng Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tidak hanya menghanguskan vegetasi, tetapi juga berdampak terhadap kehidupan satwa liar di kawasan konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Petugas menemukan bangkai satwa di area terdampak kebakaran, sementara keberadaan sejumlah satwa lain turut menjadi perhatian.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) menemukan bangkai seekor sigung serta tengkorak satwa yang diduga kijang saat melakukan penelusuran di kawasan hutan yang terdampak api.

Kepala Bagian Tata Usaha BB-TNBTS, Bambang Suriyono, mengatakan temuan tersebut menjadi bagian dari hasil pemantauan petugas di lokasi kebakaran.

“Di situ ada satwa yang mati satu jenis sigung. Kemudian tengkorak satwa kijang, tapi kami akan pastikan itu sudah lama atau dampak kebakaran,” ujar Bambang di Lumajang, Selasa (1/9/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa BB-TNBTS masih melakukan pendalaman terhadap penyebab kematian satwa yang ditemukan. Dengan demikian, dugaan keterkaitan seluruh temuan bangkai satwa dengan kebakaran belum dapat disimpulkan secara final sebelum proses pemeriksaan dan verifikasi selesai.

Di tengah temuan itu, petugas juga menemukan jejak satwa liar lain di kawasan terdampak, termasuk jejak macan tutul. Keberadaan jejak tersebut mengindikasikan satwa penghuni habitat lereng Semeru masih berada atau bergerak di sekitar kawasan yang terdampak kebakaran.

Selain itu, sejumlah satwa lain diduga melakukan pergerakan menjauhi area api untuk mencari lokasi yang lebih aman. Kondisi ini menjadi perhatian karena kebakaran tidak hanya berpotensi menyebabkan kematian satwa secara langsung, tetapi juga dapat mengganggu ruang jelajah, sumber pakan, serta keseimbangan habitat satwa liar.

Kebakaran di lereng Gunung Semeru sebelumnya dilaporkan mulai terjadi pada Rabu (26/8/2026). Titik awal kebakaran disebut berada di Blok Gunung Kembang, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro, sebelum api menjalar ke sejumlah kawasan lain di jalur pendakian Semeru.

Area yang terdampak antara lain kawasan Ayak-Ayak, Kalimati, Gunung Kolong hingga pertigaan Trisula. Luasnya kawasan yang terdampak membuat penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada perlindungan ekosistem yang berada di dalam kawasan konservasi.

Dampak kebakaran terhadap satwa liar kini menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam proses pemulihan kawasan. Hilangnya vegetasi dapat mengubah struktur habitat, sementara satwa yang berhasil menyelamatkan diri dari api berpotensi berpindah ke wilayah lain untuk mendapatkan perlindungan dan sumber makanan.

Temuan bangkai sigung dan tengkorak yang diduga kijang juga membuka kebutuhan akan pendataan lebih lanjut mengenai dampak kebakaran terhadap fauna di kawasan TNBTS. Verifikasi terhadap waktu dan penyebab kematian satwa menjadi penting agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap berbasis fakta dan tidak menimbulkan kesimpulan prematur.

BB-TNBTS bersama pihak terkait masih melakukan pemantauan dan penanganan di kawasan terdampak. Sementara itu, proses pendalaman terhadap penyebab kebakaran serta dampak ekologis yang ditimbulkan menjadi bagian penting untuk memastikan pemulihan kawasan konservasi dapat dilakukan secara menyeluruh.

Karhutla di lereng Semeru kembali memperlihatkan bahwa dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada vegetasi yang hangus. Ancaman terhadap satwa liar dan perubahan habitat menjadi konsekuensi ekologis yang membutuhkan penanganan berkelanjutan, termasuk pemantauan terhadap satwa yang kemungkinan terdampak atau berpindah dari habitat asalnya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.