Jembatan Putus, Warga Bertaruh Nyawa

oleh -250 Dilihat
oleh
Jembatan Putus, Warga Bertaruh Nyawa
Sejumlah siswa saat menaiki jembatan gantung darurat di Kecamatan Ngrayun. Foto: Istimewa
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunes.id – Jembatan penghubung di perbatasan Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Trenggalek putus diterjang banjir. Infrastruktur sepanjang 70 meter dengan lebar 2,7 meter yang melintang di Sungai Jabak, Dusun Purworejo, Desa Gedangan, Kecamatan Ngrayun, ambrol setelah tak mampu menahan derasnya arus usai hujan lebat di kawasan perbukitan.

Putusnya jembatan memutus akses utama warga menuju wilayah Trenggalek yang selama ini menjadi pusat pendidikan, layanan kesehatan, dan aktivitas ekonomi. Bagian tengah jembatan runtuh dan hanyut terbawa arus pada awal Januari 2026.

Suyanto, warga setempat sekaligus pengelola jembatan gantung darurat, mengatakan jembatan tersebut awalnya dibangun swadaya warga pada 2010 menggunakan anyaman bambu, lalu diperkuat konstruksi beton pada 2014 melalui gotong royong.

“Awal Januari 2026 kembali ambrol karena banjir,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Menurut dia, mayoritas warga lebih dekat mengakses fasilitas di Trenggalek dibanding ke pusat Kabupaten Ponorogo. Saat jembatan terputus, mobilitas warga lumpuh total. Dalam kondisi darurat, warga nekat menyeberang sungai atau memutar hingga lebih dari 20 kilometer untuk berobat.

Selama sepekan pascakejadian, ratusan warga sempat terisolasi. Kegiatan belajar, pekerjaan, hingga distribusi hasil pertanian terhenti. Warga kemudian membangun jembatan gantung darurat sepanjang sekitar 40 meter dari tali baja, kayu jati, dan besi bekas.

Kini, jembatan gantung itu menjadi satu-satunya akses yang menghubungkan Dusun Purworejo dengan Dusun Pegat, Desa Depok, Kecamatan Panggul, Trenggalek. Setiap hari 30 hingga 50 orang melintas, bahkan bisa mencapai 100 orang pada hari tertentu.

Riski Kurniawan, siswa kelas XII di SMAN 1 Bodag Trenggalek, mengaku setiap hari harus melewati jembatan gantung tersebut untuk berangkat dan pulang sekolah. Lantai kayu yang bergoyang dan derasnya arus sungai di bawahnya menjadi risiko yang harus dihadapi.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Ponorogo segera membangun jembatan permanen yang lebih kokoh dan tahan banjir agar keselamatan masyarakat di wilayah perbatasan tidak terus dipertaruhkan. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.