Jatim Perkuat Posisi di Industri Halal Global

oleh -47 Dilihat
oleh
Jatim Perkuat Posisi di Industri Halal Global
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menegaskan Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai salah satu pemain utama dalam rantai nilai halal nasional. Kekuatan sektor pesantren, UMKM, industri manufaktur, serta jaringan logistik yang terintegrasi dengan berbagai wilayah Indonesia dinilai menjadi modal penting dalam memperkuat industri halal nasional menuju pasar global.

Pernyataan tersebut disampaikan Khofifah saat menjadi keynote speaker pada Forum Ekonomi Regional Jawa Halal Ecosystem 2026 yang diselenggarakan Kabar Group Indonesia (KGI) Network di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurut Khofifah, industri halal saat ini tidak lagi terbatas pada sertifikasi produk, melainkan telah berkembang menjadi ekosistem gaya hidup dan sektor ekonomi masa depan yang memiliki nilai strategis tinggi dalam perdagangan global.

“Halal bukan lagi sekadar sertifikasi produk. Halal telah berkembang menjadi ekosistem gaya hidup dan industri masa depan. Ini adalah peluang besar yang harus dimanfaatkan Indonesia, termasuk Jawa Timur, untuk mengambil peran yang lebih strategis dalam rantai nilai halal global,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, tren internasional menunjukkan produk halal kini menjadi salah satu standar perdagangan yang identik dengan kualitas, keamanan, higienitas, keterlacakan produk, dan keberlanjutan. Kondisi tersebut mendorong banyak negara, baik berpenduduk mayoritas muslim maupun nonmuslim, berlomba mengembangkan sektor industri halal, pariwisata halal, dan keuangan syariah sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Berdasarkan State of the Global Islamic Economy (SGIE) Report 2025/2026, Indonesia menempati peringkat pertama dunia pada sektor Muslim Fashion, peringkat ketiga untuk sektor Halal Food serta Media and Recreation, dan peringkat keempat pada sektor Halal Pharmaceuticals and Cosmetics. Data tersebut menunjukkan peningkatan daya saing Indonesia dalam industri halal global.

Khofifah menilai Jawa Timur memiliki infrastruktur dan kapasitas yang memadai untuk menjadi salah satu pusat pengembangan industri halal nasional. Posisi strategis Pelabuhan Tanjung Perak sebagai simpul logistik nasional, didukung jaringan jalan tol, kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, pelabuhan, dan bandara, menjadi faktor penting dalam mendukung distribusi produk halal ke berbagai wilayah.

Selain itu, Jawa Timur memiliki 7.425 pondok pesantren dengan lebih dari 773 ribu santri, 15 Zona Kawasan Halal, Aman dan Sehat (KHAS), serta 804 destinasi pariwisata ramah muslim. Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus mengembangkan program One Pesantren One Product (OPOP) sebagai upaya mendorong lahirnya pelaku usaha berbasis pesantren.

“Pesantren memiliki posisi strategis dalam pengembangan ekonomi syariah. Melalui program Eko-Tren OPOP, kami terus mendorong lahirnya santripreneur, pesantrenpreneur, dan sociopreneur yang mampu menjadi penggerak ekonomi umat,” kata Khofifah.

Dari sisi ekonomi makro, Jawa Timur mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,96 persen pada Triwulan I 2026, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang mencapai 5,61 persen. Kontribusi Jawa Timur terhadap perekonomian nasional tercatat sebesar 14,40 persen.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memperkuat pengembangan ekonomi syariah melalui program peningkatan kapasitas pelaku usaha, penguatan industri halal, perluasan akses pembiayaan syariah, serta optimalisasi instrumen zakat dan wakaf. Sepanjang 2025, delapan program inkubasi usaha syariah telah menjangkau 2.492 pelaku usaha, dengan 2.485 di antaranya dilaporkan mengalami peningkatan omzet usaha.

Di sektor sertifikasi halal, Jawa Timur mencatat 552.943 unit usaha dan sekitar 1,41 juta produk telah memperoleh sertifikat halal. Penguatan ekosistem tersebut didukung keberadaan 21 kawasan terpadu, 15 Lembaga Pemeriksa Halal, 87 Lembaga Pendamping Proses Produk Halal, 348.010 penyelia halal, 15 laboratorium halal, serta 196 Rumah Potong Hewan halal.

Data yang dipaparkan menunjukkan jumlah usaha halal di Jawa Timur meningkat sebanyak 165.165 unit dibandingkan tahun sebelumnya atau tumbuh 42,59 persen. Sementara itu, nilai ekspor produk halal Jawa Timur mencapai USD 3,222 miliar dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor makanan dan minuman, disusul tekstil, farmasi, dan kosmetik.

Khofifah menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan ekonomi syariah memerlukan kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, sektor jasa keuangan syariah, akademisi, organisasi masyarakat, media, dan pemangku kepentingan lainnya.

Ia juga menyoroti peningkatan capaian penghargaan nasional yang diraih Jawa Timur melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), dari tiga kategori penghargaan pada 2022 menjadi sepuluh kategori pada 2025.

Menurut Khofifah, berbagai capaian tersebut menjadi indikator sekaligus modal penting bagi Jawa Timur untuk terus memperkuat daya saing sektor halal, sekaligus mendukung target Indonesia sebagai salah satu pusat ekonomi halal dunia.

“Berbagai capaian ini menjadi bekal bagi Jawa Timur untuk terus memperkuat daya saing. Kami ingin memastikan manfaat pengembangan industri halal benar-benar dirasakan masyarakat, sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur dalam mendukung Indonesia sebagai pusat ekonomi halal dunia,” pungkasnya.

*** (Red-Garudasatunews)***

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.