IHSG Ambruk, Said Soroti MSCI dan Investor Global

oleh -119 Dilihat
IHSG Ambruk, Said Soroti MSCI dan Investor Global
Ketua DPP PDI Perjuangan, Said Abdullah.
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Kejatuhan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memicu trading halt selama dua hari berturut-turut memantik sorotan Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah. Ia mempertanyakan apakah anjloknya IHSG semata akibat mekanisme pasar atau dipicu faktor eksternal yang perlu dicermati lebih kritis.

Said menyinggung keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang akan mencoret sejumlah emiten besar dari indeksnya. Kebijakan ini, menurutnya, menjadi pemicu utama tekanan hebat di pasar saham domestik.

“Langkah MSCI tersebut langsung menghantam kepercayaan pasar dan memicu arus keluar dana asing secara masif,” ujar Said, Kamis (29/1/2026).

Ia mencatat, pada Rabu (28/1/2026) IHSG terjun hingga 7,3 persen sehingga otoritas bursa terpaksa memberlakukan trading halt. Tekanan berlanjut keesokan harinya. Pada Kamis pagi (29/1/2026), IHSG sempat melemah hingga 8,5 persen sebelum perlahan bangkit jelang penutupan.

Meski volatilitas tinggi, Said menilai pasar belum kehilangan daya tahan. Nilai kapitalisasi yang kembali membesar menjadi sinyal kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek bursa Indonesia masih terjaga.

Namun demikian, ia menegaskan koreksi dari MSCI harus dijadikan alarm evaluasi serius bagi otoritas bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terutama terkait tata kelola dan kualitas pasar.

“Pesan MSCI harus dibaca sebagai koreksi untuk membangun bursa saham yang lebih sehat dan kredibel,” katanya.

Di sisi lain, Said mengingatkan publik agar tidak menelan mentah-mentah penilaian lembaga pemeringkat global. Ia menyoroti afiliasi bisnis MSCI dengan raksasa investasi dunia seperti Vanguard, BlackRock, dan State Street Global Advisors yang patut disikapi secara objektif.

Yang paling dikhawatirkan Said adalah dampak gejolak ini terhadap investor ritel, khususnya pemula. Menurutnya, kejatuhan mendadak dapat menggerus modal dan meninggalkan trauma berkepanjangan.

“Investor ritel bisa kehilangan modal dalam waktu singkat. Ini berbahaya bagi literasi dan partisipasi pasar ke depan,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong kehadiran lembaga pemeringkat pembanding agar investor global tidak bergantung pada satu penilaian tunggal. Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem pasar yang lebih adil dan berimbang.(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.