TULUNGAGUNG, Garudasatunews.id – Kenaikan harga kedelai impor yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir mulai menekan pelaku usaha kecil di Kabupaten Tulungagung. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada biaya produksi, tetapi juga memaksa sejumlah perajin melakukan penyesuaian ukuran produk untuk mempertahankan daya beli konsumen.
Tekanan biaya produksi dipicu meningkatnya harga kedelai impor yang menjadi bahan baku utama pembuatan tahu. Kondisi tersebut disebut berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sehingga harga komoditas impor di tingkat pelaku usaha mengalami kenaikan signifikan.
Salah seorang perajin tahu di Desa Gondang, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Kuswoyo (45), mengungkapkan harga kedelai impor terus mengalami kenaikan dalam empat bulan terakhir.
“Kenaikan harga kedelai impor sudah terasa sejak 4 bulan lalu, harganya terus mengalami kenaikan,” ujar Kuswoyo.
Berdasarkan keterangan pelaku usaha, harga kedelai impor saat ini mencapai Rp10.800 per kilogram. Angka tersebut meningkat dibanding harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.500 per kilogram.
Kenaikan harga bahan baku tersebut berdampak langsung pada struktur biaya produksi. Kuswoyo mengaku setiap hari mengolah sekitar dua kuintal kedelai impor untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Meski menghadapi lonjakan biaya, para perajin memilih tidak menaikkan harga jual tahu. Langkah itu diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan pelanggan di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih menantang.
“Harga tahu di pasar tetap seribu per kotak, kalau naik harga khawatir konsumen tidak mau beli,” katanya.
Sebagai strategi efisiensi, produsen melakukan penyesuaian ukuran produk. Jika sebelumnya satu kotak berisi sekitar 150 potong tahu, kini jumlahnya bertambah menjadi sekitar 160 potong dengan ukuran masing-masing potong yang lebih kecil.
Langkah tersebut dilakukan untuk menekan biaya produksi tanpa mengubah harga jual di tingkat konsumen. Praktik penyesuaian ukuran produk atau shrinkflation menjadi pilihan yang banyak ditempuh pelaku usaha ketika harga bahan baku meningkat namun pasar belum mampu menerima kenaikan harga.
Meski ukuran produk mengalami perubahan, Kuswoyo menyebut permintaan pasar hingga kini masih relatif stabil dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
“Untuk permintaan pasar cenderung stabil, tapi ya itu ukuran tahu agar diperkecil menyesuaikan dengan harga bahan baku,” ujarnya.
Fenomena yang terjadi di Tulungagung menunjukkan bagaimana fluktuasi nilai tukar rupiah dan ketergantungan terhadap bahan baku impor berdampak langsung pada sektor usaha mikro dan kecil. Kenaikan harga kedelai tidak hanya meningkatkan beban produksi, tetapi juga memaksa pelaku usaha mencari strategi bertahan agar tetap mampu memenuhi kebutuhan pasar tanpa kehilangan konsumen.
Kondisi tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa perubahan harga komoditas global dan pergerakan kurs rupiah dapat cepat dirasakan hingga tingkat usaha rakyat. Di tengah tekanan biaya yang terus meningkat, pelaku usaha kecil dituntut melakukan efisiensi agar keberlangsungan usaha tetap terjaga dan pasokan kebutuhan pangan masyarakat tidak terganggu.
(Red-Garudasatunews)
















