Harga Beras dan Bawang Putih Melonjak, Daya Beli Melemah

oleh -28 Dilihat
oleh
Harga Beras dan Bawang Putih Melonjak, Daya Beli Melemah
Seorang warga berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Minulyo, Pacitan
banner 468x60

PACITAN, Garudasatunews.id – Kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok di Pasar Minulyo, Kelurahan Baleharjo, Kecamatan Pacitan, Kabupaten Pacitan, mulai memicu kekhawatiran di tingkat pedagang. Dalam beberapa hari terakhir, harga beras dan bawang putih tercatat mengalami kenaikan signifikan, sementara aktivitas transaksi di pasar tradisional dilaporkan cenderung menurun akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Berdasarkan pantauan di Pasar Minulyo pada Rabu (17/6/2026), harga beras naik Rp1.000 per kilogram dari sebelumnya Rp13.000 menjadi Rp14.000 per kilogram. Kenaikan juga terjadi pada komoditas bawang putih yang melonjak dari Rp25.000 menjadi Rp34.000 per kilogram atau bertambah Rp9.000 per kilogram.

Di tengah kenaikan tersebut, harga bawang merah justru mengalami penurunan dari kisaran Rp48.000 menjadi Rp38.000 per kilogram. Sementara itu, harga minyak goreng masih bertahan pada level tinggi setelah sebelumnya mengalami kenaikan sekitar Rp10.000 per karton.

Pedagang Pasar Minulyo, Yana, mengungkapkan lonjakan harga bawang putih diduga dipicu berkurangnya pasokan dari distributor. Kondisi tersebut menyebabkan stok yang masuk ke pasar tidak sebanyak biasanya sehingga berdampak pada kenaikan harga di tingkat pedagang.

“Untuk bawang putih memang naik cukup tinggi. Stok dari distributor berkurang sehingga barang yang masuk ke pasar juga tidak sebanyak biasanya. Akibatnya harga ikut naik,” ujar Yana.

Kenaikan harga kebutuhan pokok tersebut, menurut Yana, mulai memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Sejumlah pembeli disebut memilih mengurangi jumlah pembelian sebagai langkah penyesuaian terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.

“Pembeli sekarang lebih sepi. Kalau biasanya beli satu kilogram, sekarang ada yang hanya membeli setengah kilogram atau seperempat kilogram,” katanya.

Kondisi serupa disampaikan pedagang lain, Soinah. Ia menilai kenaikan harga beras berkaitan dengan berkurangnya pasokan hasil panen lokal yang masuk ke pasar dalam beberapa waktu terakhir.

“Panen beras lokal saat ini tidak sebanyak biasanya sehingga pasokan berkurang. Itu yang membuat harga beras naik,” jelasnya.

Meski harga sejumlah komoditas mengalami kenaikan, para pedagang mengaku tidak memperoleh keuntungan lebih besar. Sebaliknya, omzet penjualan justru dilaporkan menurun karena jumlah pembeli yang datang ke pasar terus berkurang.

“Kalau harga naik seperti ini, pembeli jadi lebih sedikit. Kami berharap pasokan kembali normal supaya harga bisa stabil dan pembeli ramai lagi,” ungkap Soinah.

Kondisi fluktuasi harga pangan tersebut menjadi indikator yang perlu mendapat perhatian para pemangku kepentingan, terutama terkait stabilitas pasokan dan distribusi kebutuhan pokok. Pedagang berharap langkah pengendalian pasokan dapat dilakukan agar harga kembali stabil dan aktivitas perdagangan di pasar tradisional dapat kembali bergairah.

(Red-Garudasatunews) 

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.