Gus Kikin Hadapi PR Rekonsiliasi dan Ekonomi Nahdliyin

oleh -26 Dilihat
oleh
Gus Kikin Hadapi PR Rekonsiliasi dan Ekonomi Nahdliyin
Fauzi Priambodo, M.Medcom, Wakil Bendahara PWNU Jatim bersama Yenny Wahid
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menghadapi dua pekerjaan rumah besar setelah terpilih memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031, yakni membangun rekonsiliasi di tingkat elite pasca-Muktamar ke-35 NU serta memperkuat perekonomian warga Nahdliyin.

Dua agenda tersebut disoroti Wakil Bendahara Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, Fauzi Priambodo. Menurutnya, konsolidasi internal dan penguatan ekonomi harus menjadi perhatian awal kepemimpinan baru PBNU setelah kompetisi Muktamar NU berlangsung dengan dinamika dan rivalitas yang ketat.

“Dua PR besar Gus Kikin pasca-Muktamar NU adalah pertama rekonsiliasi elite, kedua memperkuat ekonomi Nahdliyin,” kata Fauzi, Selasa (1/9/2026).

Fauzi menilai rekonsiliasi menjadi agenda penting karena kompetisi dalam Muktamar ke-35 NU berlangsung dengan tensi tinggi. Situasi tersebut, menurut dia, perlu segera diakhiri melalui komunikasi dan perangkulan terhadap seluruh kandidat maupun kelompok yang sebelumnya berada dalam persaingan.

Kepemimpinan pasca-muktamar, kata Fauzi, tidak cukup hanya memastikan pergantian struktur organisasi berjalan lancar. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh elemen NU kembali berada dalam satu garis konsolidasi organisasi agar perbedaan selama proses kompetisi tidak berkembang menjadi hambatan dalam menjalankan agenda jam’iyah.

Ia meyakini karakter Gus Kikin yang dikenal teduh dapat menjadi modal untuk mencairkan suasana setelah kompetisi muktamar. Selain itu, Gus Kikin dinilai memiliki posisi yang relatif strategis karena tidak berada dalam pusaran konflik internal PBNU sebelum pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.

“Di NU itu sudah biasa dari gegeran menjadi ger-geran. Karena itu saya yakin Gus Kikin bisa segera melakukan rekonsiliasi di tataran elite,” ujar Fauzi.

Persoalan kedua yang menjadi sorotan adalah penguatan ekonomi warga Nahdliyin. Fauzi menilai agenda tersebut perlu diterjemahkan menjadi program yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi wacana organisasi.

Ketua Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) PWNU Jawa Timur pada era kepemimpinan Kiai Marzuki Mustamar itu mengatakan, NU memiliki basis sosial dan potensi ekonomi besar yang dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen organisasi.

Menurut Fauzi, semangat kebangkitan ekonomi saudagar atau Nahdlatut Tujjar yang digagas para pendiri NU dapat kembali menjadi pijakan dalam memperkuat kemandirian ekonomi warga.

Penguatan sektor ekonomi tersebut dinilai menjadi tantangan strategis karena besarnya basis warga NU perlu diikuti dengan sistem pemberdayaan yang mampu membuka akses usaha, memperkuat koperasi, serta mengoptimalkan jaringan ekonomi yang telah tersedia.

Fauzi menilai latar belakang Gus Kikin sebagai seorang kiai yang juga memiliki pengalaman di dunia usaha dapat menjadi modal dalam menjalankan agenda tersebut. Namun, keberhasilan penguatan ekonomi Nahdliyin tetap bergantung pada kemampuan PBNU menerjemahkan potensi besar warga menjadi program yang terukur dan berkelanjutan.

“Apalagi Gus Kikin adalah kiai yang berlatar pengusaha. Beliau pasti paham bagaimana menggerakkan potensi ekonomi Nahdliyin dengan instrumen yang ada, seperti BUMNU, LPNU dan koperasi,” pungkasnya.

Dengan demikian, kepemimpinan Gus Kikin memasuki periode 2026–2031 akan diuji pada dua agenda utama: meredakan sisa ketegangan pasca-kompetisi melalui rekonsiliasi elite dan membuktikan bahwa kekuatan organisasi NU dapat diterjemahkan menjadi penguatan ekonomi yang dirasakan lebih luas oleh warga Nahdliyin.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.