Geografis Rendah, Banjir Rob Rendam Kepulauan Sapeken Sumenep Seminggu Terakhir

oleh -67 Dilihat
oleh
banner 468x60

​SUMENEP, Garudasatunews.id – Banjir rob kembali merendam kawasan Pulau Sadulang Kecil, Desa Sadulang, Kecamatan Pulau Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Jumat (19/6/2026).

Selain limpasan air laut, fenomena tahunan ini diperparah oleh munculnya air dari dalam tanah di sekitar pemukiman warga.

 

 

​Sekretaris Desa Sadulang, Bustamil Arifin, mengonfirmasi bahwa genangan air pasang ini telah berlangsung selama sepekan terakhir. Dampak rob tidak hanya dirasakan di Pulau Sadulang Kecil, melainkan juga meluas ke Pulau Sadulang Besar dan sebagian wilayah Kepulauan Sapeken.

​”Sudah sekitar satu minggu banjir rob terjadi. Wilayah terdampak meliputi Sadulang Kecil, Sadulang Besar, hingga sebagian kawasan Sapeken,” ujar Bustamil dikutip Kompas.com, Jumat (19/6).

 

​Menurut Bustamil, terdapat perbedaan karakteristik banjir di kedua pulau tersebut :

– ​Pulau Sadulang Besar : Banjir rob umumnya datang pada malam hari, mengalir langsung ke rumah-rumah warga dan mengganggu waktu istirahat. Bahkan, sejumlah warga melaporkan tempat tidur mereka ikut terendam.

– ​Pulau Sadulang Kecil : Genangan tidak hanya berasal dari luapan laut, melainkan merembes dan keluar dari dalam tanah akibat posisi pulau yang berada di bawah permukaan laut.

 

 

​Kondisi geografis yang rendah ini membuat penanganan banjir rob di wilayah tersebut menjadi sangat kompleks. Bustamil menyebutkan bahwa solusi konvensional seperti pembangunan tanggul laut tidak akan sepenuhnya menyelesaikan masalah.

​”Kalaupun dibangun tanggul laut, banjir tetap akan terjadi karena airnya juga muncul dari dalam tanah. Jadi, persoalannya bukan sekadar luapan air laut,” jelasnya.

 

​Ancaman Sampah dan Ketahanan Warga :

​Situasi diprediksi akan memburuk jika banjir rob terjadi bersamaan dengan angin kencang. Pasang air laut dipastikan membawa material sampah ke area pemukiman, yang memperparah sanitasi lingkungan dan melumpuhkan aktivitas harian warga.

​Meski menjadi agenda tahunan yang merugikan, keterbatasan opsi membuat warga setempat memilih bertahan. Akses jalan yang terputus dan genangan di dalam rumah terpaksa dihadapi tanpa adanya langkah evakuasi.

 

 

​”Warga tidak mengungsi, mereka terpaksa bertahan dan beradaptasi,” pungkas Bustamil. hingga saat ini, belum ada solusi permanen untuk mengatasi fenomena alam di wilayah kepulauan rendah tersebut.(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.