Festival Gamelan Kahuripan Tembus 33 Grup

oleh -33 Dilihat
oleh
Festival Gamelan Kahuripan Tembus 33 Grup
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mendorong generasi muda untuk melestarikan seni karawitan dan tembang sebagai budaya daerah melalui Festival Gamelan Kahuripan.
banner 468x60

SIDOARJO, Garudasatunews.id – Minat generasi muda terhadap seni gamelan dan karawitan di Kabupaten Sidoarjo menunjukkan peningkatan. Hal itu terlihat dari Festival Gamelan Kahuripan 2026 yang diikuti sebanyak 33 grup pelajar dari jenjang SD, SMP hingga SMA, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat 23 grup.

Festival Gamelan Kahuripan memasuki penyelenggaraan tahun keempat dan digelar Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo di Pendopo Delta Wibawa, Sabtu (26/9/2026). Tahun ini kegiatan mengusung tema “Gamelan untuk Meditasi: Eksplorasi Pendengaran melalui Membunyikan Gamelan Jawa”.

Ketua Dekesda Sidoarjo Ribut Wijoto mengatakan bertambahnya jumlah peserta menjadi indikator meningkatnya ketertarikan generasi muda terhadap kesenian tradisional. Menurutnya, keterlibatan pelajar juga menunjukkan bahwa gamelan tidak hanya diminati kalangan generasi tua.

“Alhamdulillah pada tahun keempat ini peserta yang ikut lebih banyak. Artinya, minat generasi muda akan kesenian gamelan ini juga meningkat,” ujar Ribut saat memberikan sambutan.

Dari sisi perkembangan penyelenggaraan, jumlah peserta Festival Gamelan Kahuripan tercatat meningkat secara bertahap. Pada 2023 kegiatan diikuti delapan kelompok, kemudian bertambah menjadi 16 kelompok pada 2024, 23 kelompok pada 2025, dan mencapai 33 kelompok pada 2026.

Peningkatan tersebut sekaligus membuka sudut pandang bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan pertunjukan. Keberadaan ekstrakurikuler karawitan di sekolah, ketersediaan perangkat gamelan, pendampingan, serta ruang tampil bagi pelajar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan regenerasi seni tradisional.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidoarjo Ridho Prasetyo menilai Festival Gamelan Kahuripan menjadi ruang pertemuan antara seni, pendidikan, masyarakat dan generasi muda. Ia menyebut permainan gamelan juga mengajarkan kebersamaan, kedisiplinan, kerukunan, serta kemampuan menjaga harmoni.

Menurut Ridho, pengenalan budaya lokal kepada anak-anak perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mereka tidak hanya mengenal budaya dari luar daerah, tetapi juga memahami kekayaan budaya di lingkungan sendiri.

“Jangan sampai anak-anak kita mengenal budaya luar, namun tidak mengenal budaya Kabupaten Sidoarjo sendiri,” tegasnya.

Di sisi lain, tantangan pelestarian gamelan masih terlihat dari keterbatasan sarana. Dekesda disebut hanya memiliki dua set gamelan untuk kegiatan latihan, sementara jadwal penggunaannya telah padat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meningkatnya minat peserta perlu diimbangi dengan penguatan fasilitas dan pembinaan.

Pemkab Sidoarjo mendorong kolaborasi berbagai pihak agar gamelan tidak berhenti sebagai warisan budaya masa lalu. Kesenian tersebut diharapkan terus dipelajari, dikembangkan, sekaligus menjadi ruang lahirnya kreativitas dan karya baru generasi muda.

Festival Gamelan Kahuripan 2026 dengan 33 grup peserta menjadi catatan penting bagi keberlanjutan regenerasi seni karawitan di Sidoarjo. Peningkatan jumlah peserta dari tahun ke tahun menunjukkan tersedianya ruang partisipasi bagi pelajar dan masyarakat untuk mengenal, memainkan, serta mengembangkan gamelan sebagai bagian dari identitas budaya.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.