LAMONGAN, Garudasatunews.id – Kawasan Bengawan Mati di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, terus dikembangkan sebagai ruang aktivitas masyarakat sekaligus destinasi sport tourism. Festival Dayung Tejoasri menjadi salah satu upaya mengangkat potensi kawasan tersebut melalui olahraga tradisional.
Memasuki tahun keempat penyelenggaraan, Festival Dayung Tejoasri yang digelar Minggu (9/8/2026) diikuti 32 tim dayung dari berbagai daerah di Jawa Timur. Para peserta beradu kecepatan menggunakan perahu tradisional di lintasan Bengawan Mati.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, konsistensi penyelenggaraan festival menunjukkan potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kegiatan olahraga sekaligus wisata yang menarik perhatian masyarakat.
“Antusiasme masyarakat sangat tinggi karena hari ini adalah Festival Dayung yang keempat. Dari setiap tahun festival ini ada sesuatu yang baru dan diperbaiki, baik dari sisi penampilan maupun kualitas pertandingan yang semakin baik,” kata Yuhronur.
Festival tahunan tersebut sekaligus menjadi sarana memperkenalkan Bengawan Mati sebagai salah satu potensi wisata di Lamongan. Pemanfaatan kawasan perairan sebagai arena olahraga tradisional dinilai membuka peluang untuk menarik kunjungan masyarakat dari luar daerah.
Namun, pengembangan festival menjadi agenda wisata olahraga yang lebih besar masih membutuhkan penataan. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Timur Muhammad Hadi Wawan Guntoro menilai penyelenggaraan Festival Dayung Tejoasri patut diapresiasi karena mampu mempertahankan olahraga tradisional sekaligus membuka peluang pengembangan wisata berbasis olahraga.
Menurutnya, aspek penyelenggaraan, termasuk dukungan sponsor, perlu ditata agar festival memiliki standar yang jelas dan berkelanjutan.
“Sponsornya juga harus ditata. Nantinya perlu ada standar penyelenggaraan yang jelas. Dengan begitu, festival ini tidak hanya menjadi olahraga yang tumbuh dari masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pembinaan prestasi,” ujarnya.
Kepala Desa Tejoasri Yusuf Bachtiar menyatakan pemerintah desa terbuka jika Festival Dayung Tejoasri mendapat perhatian lebih dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan masuk dalam agenda tahunan tingkat provinsi.
“Kita selalu terbuka. Misalkan Pemprov melirik Desa Tejoasri untuk dijadikan agenda tahunan, Desa Tejoasri menyambut baik agenda itu. Terkait hal-hal lain nanti mungkin kita mengikuti apa yang menjadi petunjuk Pemprov Jatim,” ujarnya.
Selain aspek olahraga dan pariwisata, festival turut menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Kehadiran peserta dan pengunjung dari berbagai daerah memberikan peluang bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan Bengawan Mati untuk meningkatkan aktivitas perdagangan selama kegiatan berlangsung.
Pada penyelenggaraan tahun ini, tim dari Desa Jumputrejo, Kabupaten Sidoarjo, keluar sebagai juara setelah mengalahkan tim Desa Pupus Blawi, Kabupaten Lamongan.
Festival Dayung Tejoasri kini tidak hanya menjadi kompetisi olahraga tradisional, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengembangkan potensi Bengawan Mati sebagai destinasi sport tourism berbasis masyarakat. Tantangannya adalah memastikan agenda tersebut memiliki standar penyelenggaraan dan pembinaan yang mampu menjaga keberlanjutan festival dari tahun ke tahun. (Red-Garudasatunews)















