Ekspor Sarden Banyuwangi Tembus Rp10 Miliar

oleh -40 Dilihat
oleh
Ekspor Sarden Banyuwangi Tembus Rp10 Miliar
Ekspor Sarden Banyuwangi Tembus Rp10 Miliar
banner 468x60

BANYUWANGI, Garudasatunews.id – Sebanyak 270 ton ikan sarden produksi Kabupaten Banyuwangi kembali menembus pasar internasional dengan nilai ekspor mencapai Rp10 miliar. Produk olahan hasil laut yang diproduksi PT Pacific Harvest Indonesia tersebut diberangkatkan menggunakan 10 kontainer menuju sejumlah negara di kawasan Eropa, Afrika, Timur Tengah, hingga Asia.

Ekspor tersebut berasal dari fasilitas produksi PT Pacific Harvest Indonesia yang berlokasi di Kecamatan Muncar, Banyuwangi, salah satu sentra industri pengolahan hasil perikanan terbesar di Indonesia. Pelepasan ekspor dihadiri Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono, pemilik PT Pacific Harvest Indonesia Aminoto, serta Direktur Marketing PT Pacific Harvest Indonesia Sherly Indrawati Aminoto.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyatakan peningkatan ekspor produk olahan perikanan menunjukkan sektor industri pengolahan hasil laut di Banyuwangi masih memiliki daya saing di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, permintaan produk ikan siap saji di pasar internasional justru mengalami peningkatan di sejumlah negara tujuan ekspor.

“Ketika terjadi dinamika global di berbagai negara, kebutuhan ikan siap saji justru meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi Pacific Harvest untuk terus memperluas pasar ekspornya,” ujar Khofifah.

Direktur Marketing PT Pacific Harvest Indonesia, Sherly Indrawati Aminoto, menjelaskan setiap kontainer mengangkut sekitar 27 ton produk sarden kalengan. Selama ini, perusahaan telah mengekspor produk ke berbagai kawasan, termasuk Eropa, Afrika, Asia, dan Timur Tengah.

Namun demikian, ekspansi pasar tersebut tidak lepas dari tantangan. Sherly mengungkapkan biaya logistik ekspor, khususnya ke kawasan Timur Tengah, mengalami lonjakan signifikan. Biaya pengiriman yang sebelumnya berkisar 700 dolar Amerika Serikat per kontainer meningkat menjadi sekitar 5.000 dolar Amerika Serikat per kontainer akibat situasi geopolitik global.

Meski menghadapi kenaikan biaya logistik, perusahaan mengklaim tetap mampu mempertahankan kinerja ekspor melalui strategi diversifikasi pasar. Saat ini, selain Timur Tengah, pasar ekspor PT Pacific Harvest Indonesia juga mencakup Eropa, Afrika, Jepang, Australia, serta sejumlah negara lainnya.

“Pasar kami tidak hanya Timur Tengah, tetapi juga Eropa, Afrika, Jepang, Australia, hingga negara-negara lain. Diversifikasi pasar membuat kami tetap bisa bertumbuh meski ada tantangan global,” kata Sherly.

Sebagai bagian dari strategi ekspansi, perusahaan juga membuka penetrasi pasar baru ke Meksiko, Korea Selatan, Portugal, Spanyol, dan sejumlah negara di kawasan Amerika Latin untuk memperluas distribusi produk olahan hasil laut asal Banyuwangi.

Sebelum pelepasan ekspor sarden, Gubernur Jawa Timur meresmikan pabrik kemasan kaleng PT Sunrise Masami Internasional di Kecamatan Muncar. Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pemasok utama kemasan kaleng bagi industri pengolahan hasil laut di Banyuwangi yang berorientasi ekspor.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam peresmian, PT Sunrise Masami Internasional memiliki kapasitas produksi sekitar 50 juta kaleng per bulan atau setara 600 juta kaleng per tahun. Nilai investasi pabrik tersebut mencapai sekitar Rp200 miliar dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 200 orang.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai keberadaan industri kemasan di daerah menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku kemasan yang selama ini masih mendominasi kebutuhan industri pengolahan hasil laut nasional.

Sherly menyebutkan biaya kemasan selama ini menyumbang sekitar 35 persen dari total biaya produksi produk kalengan. Sebelum adanya fasilitas produksi lokal, hampir seluruh kebutuhan kemasan perusahaan masih bergantung pada impor.

“Dulu hampir 90 sampai 100 persen kaleng kami masih impor. Sekarang kami bekerja sama dengan perusahaan dari Tiongkok untuk memproduksi bodi dan tutup kaleng di Banyuwangi sehingga biaya bisa lebih efisien sekitar 10 hingga 15 persen,” ujarnya.

Keberadaan industri penunjang di kawasan Muncar dinilai menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing ekspor produk perikanan Banyuwangi, terutama di tengah tekanan biaya logistik global dan persaingan pasar internasional yang semakin ketat. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.