SURABAYA, Garudasatunews.id – Ketua Komisi A DPRD Surabaya Yona Bagus Widyatmoko mendorong ketahanan pangan berbasis lingkungan melalui pengolahan sampah organik di tingkat kampung. Program tersebut diwujudkan dengan menyiapkan sekitar 200 unit tong komposter untuk sejumlah RW binaannya di Daerah Pemilihan (Dapil) 5 Surabaya.
Program itu mengadaptasi konsep Kampung Malaka Jaya, Jakarta Timur, yang mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dengan budidaya pangan dan pemberdayaan ekonomi warga. Di Surabaya, penerapannya akan disesuaikan dengan kondisi lingkungan, ketersediaan lahan, serta kebutuhan masing-masing kampung.
Langkah awal dilakukan di Perumahan Gunung Sari Indah (GSI), RW 9, Kelurahan Kedurus. Sebanyak 20 unit tong komposter berkapasitas 160 liter telah didistribusikan sebagai tahap awal pengolahan limbah organik secara komunal.
Yona yang akrab disapa Cak Yebe mengatakan komposter bukan tujuan akhir. Menurut dia, pengolahan sampah organik harus diarahkan menjadi bagian dari kegiatan produktif warga, seperti pemanfaatan kompos untuk tanaman pangan, kebun lingkungan, urban farming hingga pengembangan budidaya lainnya.
Program tersebut juga diarahkan ke sejumlah wilayah binaan lain, yakni RW 3 dan RW 4 Sumberan, Kelurahan Balas Klumprik; RW 4 Kelurahan Jajar Tunggal; RW 1 Kelurahan Kedurus; RW 3 Kelurahan Jeruk; serta RW 2 dan RW 3 Kelurahan Warugunung.
Setiap RW yang berminat menjalankan program tersebut disiapkan sedikitnya empat tong komposter berkapasitas 160 liter. Jumlahnya dapat disesuaikan dengan cakupan wilayah dan luas RT yang berada dalam satu RW.
Dalam rangkaian jaring aspirasi masyarakat, total sekitar 200 unit komposter disiapkan secara swadaya. Skema tersebut menempatkan bantuan sebagai stimulan agar pengelolaan sampah organik tidak berhenti pada pembagian sarana, tetapi berkembang menjadi kegiatan mandiri masyarakat.
Yona menilai model Malaka Jaya relevan sebagai referensi karena pengelolaan limbah organik di kawasan tersebut dikembangkan bersama kegiatan produktif warga, termasuk tanaman pangan dan budidaya ikan. Namun, ia menegaskan konsep tersebut tidak akan diterapkan secara mentah di Surabaya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan komposter benar-benar digunakan dan mampu menghasilkan manfaat bagi warga. Karena itu, keberhasilan program tidak semata diukur dari jumlah tong yang dibagikan, melainkan dari keberlanjutan pengelolaan sampah dan kemampuan warga mengembangkan hasilnya menjadi kegiatan produktif.
Yona berharap warga tidak hanya menjadi penerima bantuan. Dari pengolahan sampah organik, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan tanaman pangan, urban farming, budidaya ikan, maupun kegiatan lain sesuai potensi wilayah sehingga ketahanan pangan dapat tumbuh dari tingkat kampung.
(Red-Garudasatunews)












