Dokter Haji Siaga, Jemaah Produktif Justru Rentan

oleh -92 Dilihat
oleh
Dokter Haji Siaga, Jemaah Produktif Justru Rentan
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak di hadapan ratusan tenaga kesehatan KKHI Arab Saudi pada Rabu malam (20/05) di Klinik Kesehatan Haji Indonesia di kawasan Aziziyah, Makkah.
banner 468x60

MAKKAH, Garudasatunews.id – Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia mencatat penurunan drastis angka kematian jemaah haji Indonesia pada musim haji 1447 H/2026 M. Hingga hari ke-30 operasional haji, jumlah jemaah wafat tercatat 50 jiwa, turun tajam dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai 120 jiwa.

Meski tren penurunan dinilai signifikan, pemerintah justru mengeluarkan peringatan serius terhadap jemaah usia produktif yang dianggap paling rawan mengalami gangguan kesehatan akibat memaksakan aktivitas ibadah di tengah cuaca ekstrem Arab Saudi.

Data evaluasi Kementerian Haji menunjukkan kelompok usia 40 hingga 50 tahun menjadi kategori dengan risiko fatalitas tertinggi. Faktor utama dipicu sikap abai terhadap kondisi fisik, merasa masih kuat, lalu memaksakan diri berjalan kaki maupun menjalankan ibadah sunnah di luar ruangan saat suhu mencapai titik ekstrem.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, mengungkapkan mayoritas kasus kesehatan yang masuk penanganan klinik dipicu dehidrasi berat, kelelahan fisik, komorbid, hingga ancaman heatstroke.

“Hingga hari ini justru yang banyak wafat bukan lansia, melainkan usia 40-an dan 50-an karena merasa sehat lalu memaksakan kegiatan,” tegas Dahnil saat visitasi medis di Makkah, Rabu (20/5/2026) malam.

Ironisnya, lanjut Dahnil, jemaah lanjut usia di atas 70 tahun justru dinilai lebih disiplin menjaga stamina karena patuh terhadap imbauan pembatasan aktivitas luar ruang.

Pemerintah Indonesia juga mengungkap adanya perubahan signifikan dalam dukungan regulasi dari otoritas Arab Saudi. Berbeda dengan musim haji sebelumnya yang dipenuhi pembatasan birokrasi, tahun ini Kerajaan Arab Saudi memberikan izin resmi operasional bagi Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) pusat serta 40 klinik satelit di sektor pemondokan jemaah.

Menurut Dahnil, kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap percepatan layanan medis dan menekan angka kematian jemaah.

“Pemerintah Arab Saudi sangat membantu karena izin operasional KKHI dan klinik sektor dipermudah. Ini sangat berpengaruh terhadap penanganan kesehatan jemaah,” ujarnya.

Memasuki fase krusial Armuzna, pemerintah memprediksi potensi lonjakan kasus kesehatan masih dapat terjadi. Sebanyak 182.332 jemaah reguler dijadwalkan bergerak menuju Arafah mulai 25 Mei 2026.

Berdasarkan catatan evaluasi musim haji sebelumnya, fase Armuzna selalu menjadi titik paling rawan terhadap peningkatan angka kematian akibat akumulasi kelelahan dan tekanan cuaca ekstrem.

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Haji menerjunkan 1.600 dokter berizin resmi atau tasrih khusus untuk melakukan pelayanan jemput bola langsung ke hotel-hotel jemaah.

Tim medis tersebut diperkuat dengan skema pengaturan mobilitas satu arah di Terowongan Muaisim, pembatasan aktivitas luar ruang saat puncak panas, serta penyediaan makanan siap santap bagi jemaah selama fase Armuzna berlangsung.

Pemerintah berharap seluruh jemaah tidak memaksakan kondisi fisik dan mematuhi arahan petugas demi menekan risiko kematian selama puncak ibadah haji berlangsung.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.