Diduga Serangan Jantung, Wahana Rumah Hantu Ditutup Polisi

oleh -73 Dilihat
oleh
Diduga Serangan Jantung, Wahana Rumah Hantu Ditutup Polisi
Diduga Serangan Jantung, Wahana Rumah Hantu Ditutup Polisi
banner 468x60

TULUNGAGUNG, Garudasatunews.id – Seorang perempuan berinisial BNW (39), warga Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, meninggal dunia setelah keluar dari wahana rumah hantu yang beroperasi di area parkir sebuah pusat perbelanjaan. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, korban diduga mengalami serangan jantung. Kepolisian menutup sementara operasional wahana tersebut untuk kepentingan penyelidikan.

Peristiwa terjadi pada sore hari saat korban memasuki wahana sekitar pukul 14.30 WIB. Menurut keterangan polisi, korban keluar sekitar lima menit kemudian sebagaimana pengunjung lainnya sebelum akhirnya mengalami kondisi darurat.

Pamapta Polres Tulungagung, Ipda Hendra Endy Purwanto, menjelaskan korban sempat duduk di kursi yang berada di dekat pintu keluar wahana. Beberapa saat kemudian korban berdiri, namun tiba-tiba terjatuh di lokasi.

“Korban memasuki wahana sekitar pukul 14.30 WIB. Lima menit kemudian korban sudah keluar dari area rumah hantu seperti pengunjung lainnya,” ujar Ipda Hendra.

Pengunjung bersama petugas wahana segera memberikan pertolongan pertama dan menghubungi tenaga medis. Meski sempat mendapat penanganan, nyawa korban tidak dapat diselamatkan.

Tim Inafis Polres Tulungagung bersama petugas medis RSUD dr. Iskak kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan pemeriksaan awal terhadap jenazah. Hasil visum luar menemukan luka pada pelipis kiri yang diduga akibat benturan saat korban terjatuh serta satu gigi yang patah.

Namun demikian, kepolisian menegaskan temuan luka tersebut belum dapat disimpulkan sebagai penyebab kematian. Proses penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan rangkaian penyebab meninggalnya korban berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan keterangan para saksi.

“Di pelipis sebelah kiri ada luka karena kemungkinan terbentur saat jatuh, kemudian ada gigi yang patah,” jelas Ipda Hendra.

Keterangan dari pihak keluarga juga menjadi bagian dari proses pendalaman penyelidikan. Polisi menyebut korban memiliki riwayat hipertensi. Saat menunaikan ibadah haji beberapa waktu lalu, korban dikabarkan beberapa kali mengalami pingsan akibat tekanan darah tinggi. Setelah kembali ke Indonesia, korban disebut sering mengeluhkan jantung berdebar ketika mendengar suara keras, seperti suara knalpot atau kendaraan yang digas.

“Menurut keterangan ibu kandungnya, saat haji korban pernah pingsan cukup lama. Setelah pulang juga kalau mendengar suara keras, misalnya knalpot atau motor digas, sering merasa berdebar,” terang Ipda Hendra.

Jenazah selanjutnya dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD dr. Iskak Tulungagung untuk menjalani visum luar. Setelah proses tersebut selesai, pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan memutuskan tidak dilakukan autopsi.

Di sisi lain, kepolisian mengambil langkah preventif dengan menutup sementara operasional wahana rumah hantu serta memasang garis polisi di lokasi. Penutupan dilakukan agar proses olah TKP, pengumpulan alat bukti, serta pemeriksaan terhadap pengelola dapat berlangsung tanpa hambatan.

“Untuk sementara wahana rumah hantu ditutup guna kepentingan penyelidikan. Kami juga masih melakukan klarifikasi terhadap pihak pengelola,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, kepolisian belum menyampaikan kesimpulan resmi mengenai penyebab pasti kematian korban. Proses penyelidikan masih berlangsung dengan mengedepankan hasil pemeriksaan medis, keterangan saksi, serta fakta-fakta di lapangan. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.