Darurat Sampah di Pesisir Branta Pamekasan: Bau Menyengat dan Ancaman Mikroplastik Hantui Warga

oleh -35 Dilihat
oleh
banner 468x60

 

​PAMEKASAN, Garudasatunews.id – Kawasan pesisir Desa Branta, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, kini tengah menghadapi krisis lingkungan yang serius.

 

Alih-alih menyuguhkan keindahan alam, bentang pesisir sepanjang 50 meter di wilayah tersebut justru tertutup oleh tumpukan sampah plastik yang menimbulkan bau menyengat dan mengganggu aktivitas warga.

 

​Titik penumpukan sampah ini berada di lokasi yang cukup strategis, yakni di pintu masuk Pelabuhan Branta, tepat di samping Kantor Syahbandar. Jaraknya yang kurang dari 10 meter dari permukiman padat penduduk membuat dampak polusi ini langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar.

 

​Seorang warga setempat berinisial S (40) mengungkapkan bahwa gunungan limbah tersebut bukan merupakan sampah kiriman dari laut, melainkan akumulasi dari pembuangan rumah tangga warga sekitar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

 

​”Lingkungan di sini sangat padat, dan warga di sepanjang pesisir Branta membuang sampah ke lokasi ini karena tidak ada alternatif tempat pembuangan lain,” ujar S, Jumat (22/5/2026).

Ia menambahkan, papan larangan yang terpasang di lokasi tidak efektif selama solusi fasilitas pembuangan belum tersedia.

 

​Kondisi kumuh ini memicu keresahan terkait potensi gangguan kesehatan masyarakat. Selain polusi udara akibat bau busuk, penumpukan sampah plastik dalam jangka panjang di area pesisir berpotensi besar memicu pencemaran mikroplastik yang berbahaya bagi ekosistem laut dan kesehatan manusia.

 

Warga pun mendesak adanya tindakan pembersihan segera serta solusi jangka panjang berupa penyediaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi.

 

​Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pamekasan, Mohammad Syafii, mengakui bahwa penanganan di lokasi tersebut sejauh ini belum maksimal.

 

​”Kami sebenarnya sudah beberapa kali melakukan aksi pembersihan di sana, bahkan sering berkolaborasi dengan aktivis lingkungan. Namun, sampah kembali menumpuk karena belum adanya sistem pengangkutan yang rutin,” jelas Syafii.

 

​Sebagai langkah antisipasi ke depan, DLH Pamekasan berencana menyusun skema pengangkutan sampah harian agar penumpukan tidak kembali terulang.

 

“Rencana pengangkutan rutin setiap hari ini akan segera kami koordinasikan dengan Kepala Dinas untuk eksekusinya,” pungkasnya.(adc)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.