Daru Setyorini Raih Penghargaan Sains Air Dunia di China

oleh -14 Dilihat
oleh
banner 468x60

NINGBO, CHINA, Garudasatunews.id – Dedikasi panjang dalam penelitian dan perlindungan ekosistem sungai mengantarkan pegiat lingkungan asal Gresik, Jawa Timur, Daru Setyorini, meraih penghargaan internasional Global Water Science Education Award dalam ajang 2026 Shen Kuo Science Communication Award di Ningbo, China.

Penghargaan tersebut diberikan atas kontribusinya mengembangkan dan menerapkan metode Biotilik sebagai pendekatan pemantauan kualitas air sungai berbasis sains warga (citizen science). Daru menerima penghargaan secara langsung dari Hao Xin, Vice President & Executive Director Zhejiang Provincial Federation for Science Popularization, dalam konferensi Sci2U di Ningbo Science Exploration Centre, Selasa (27/10/2026).

Capaian tersebut menjadi pengakuan internasional terhadap konsistensi gerakan lingkungan dari Jawa Timur dalam mendorong keterlibatan masyarakat menjaga kelestarian Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.

Ketua Brantas River Waterkeeper sekaligus Direktur Eksekutif ECOTON itu berhasil memperoleh lima suara penuh dari lima anggota dewan juri independen. Hasil tersebut menempatkan perwakilan Indonesia di posisi tertinggi setelah bersaing dengan enam nomine organisasi lingkungan dari berbagai negara.

Biotilik, Sains yang Melibatkan Masyarakat

Penghargaan internasional tersebut tidak terlepas dari perjalanan panjang pengembangan metode Biotilik yang melibatkan masyarakat dalam memantau kesehatan ekosistem sungai.

Metode Biotilik memanfaatkan organisme air tidak bertulang belakang atau makroinvertebrata sebagai indikator biologis untuk mengetahui kondisi kualitas perairan. Keberadaan maupun perubahan jenis organisme tertentu dapat menjadi petunjuk kondisi ekologis sungai dan tingkat tekanan pencemaran.

Melalui gerakan River Detectives, masyarakat, pelajar, kelompok perempuan, dan relawan diajak melakukan pengamatan langsung terhadap kondisi sungai, termasuk mendeteksi indikasi pencemaran serta ancaman mikroplastik.

Pendekatan ini membuka ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjadi penerima informasi mengenai pencemaran lingkungan, tetapi juga terlibat dalam pengumpulan bukti dan pengawasan ekosistem di wilayahnya.

Hao Xin menilai inovasi penelitian berbasis komunitas yang dikembangkan di Jawa Timur berhasil menjembatani ilmu pengetahuan akademis dengan kebutuhan masyarakat.

Keterlibatan pelajar, perempuan, dan warga dalam mengumpulkan bukti pencemaran di lapangan dinilai mampu mengubah pendekatan sains yang sebelumnya identik dengan laboratorium menjadi pengetahuan praktis yang dapat diterapkan masyarakat.

Dua Dekade Mengawal Kelestarian Sungai Brantas

Konsistensi selama kurang lebih dua dekade dalam menjalankan sains warga menjadi salah satu faktor penting di balik pencapaian tersebut.

Bagi Daru, penghargaan internasional itu bukan semata-mata pencapaian individu, melainkan hasil kerja kolektif para relawan, kelompok perempuan, pelajar, dan masyarakat yang selama ini terlibat dalam gerakan perlindungan Sungai Brantas.

Ia menegaskan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar sungai memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam mengawasi perubahan kondisi lingkungan.

Melalui Biotilik, masyarakat didorong mengamati kesehatan air berdasarkan organisme yang hidup di sungai, mengenali indikasi sumber pencemaran limbah industri, serta mengumpulkan informasi sebagai dasar advokasi perlindungan lingkungan.

Pendekatan tersebut sekaligus memperkuat kesadaran bahwa pengawasan kualitas air tidak hanya menjadi tanggung jawab peneliti maupun lembaga pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi aktif masyarakat.

Penghargaan Internasional dan Tantangan Pengawasan Sungai

Ajang yang diselenggarakan Zhejiang Shen Kuo Science Communication Foundation tersebut memberikan perhatian terhadap kontribusi tokoh dan lembaga yang berhasil mengembangkan komunikasi sains secara inklusif serta aplikatif bagi masyarakat luas.

Keberhasilan Daru Setyorini bersama Brantas River Waterkeeper dan ECOTON membawa pesan bahwa inovasi berbasis komunitas dari daerah dapat memperoleh pengakuan di tingkat internasional.

Namun, penghargaan tersebut juga menjadi momentum penting untuk terus memperkuat pengawasan kualitas air, khususnya di sepanjang DAS Brantas yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.

Ke depan, metode pemantauan mandiri berbasis Biotilik diharapkan dapat diadopsi oleh komunitas dan pegiat lingkungan di berbagai wilayah dunia.

Pengakuan internasional ini sekaligus memperlihatkan bahwa upaya menjaga sungai tidak cukup hanya mengandalkan penelitian, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat, edukasi lingkungan, dan keberlanjutan pengawasan terhadap ekosistem perairan.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.