Dari Ontel ke Haji, Jejak Keras Wartawan Ponorogo

oleh -21 Dilihat
oleh
Dari Ontel ke Haji, Jejak Keras Wartawan Ponorogo
Muhammad Yani dengan istrinya Ambar Amborowati saat pamitan di Pendopo Pemkab Ponorogo. (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id — Perjalanan panjang seorang wartawan senior di Ponorogo bermuara pada keberangkatan ibadah haji 2026, setelah puluhan tahun meniti karier dari bawah dalam dunia jurnalistik yang penuh tekanan dan ketidakpastian ekonomi.

Muhammad Yani, CEO Ponorogo Pos, dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada 26 April 2026 melalui Kloter 19 Ponorogo, setelah menunggu selama 14 tahun sejak pendaftaran pada 2012. Keberangkatan ini menjadi penanda hasil dari disiplin finansial dan konsistensi kerja yang dibangun sejak awal kariernya.

Selama 26 tahun berkecimpung di dunia pers, Yani meniti karier dari level terbawah di sejumlah media di bawah Jawa Pos Group, mulai dari Harian Karya Darma, Harian Duta Masyarakat, hingga Radar Madiun. Pada medio 2000-an, ia mengambil langkah berisiko dengan mendirikan media sendiri, Ponorogo Pos, di tengah ketatnya persaingan industri.

Dalam praktik jurnalistiknya, Yani dikenal terbiasa menangani liputan investigatif yang menuntut ketelitian dan keberanian. Ia menilai profesi wartawan bukan sekadar pekerjaan, melainkan ruang pembuktian idealisme di tengah berbagai tekanan lapangan.

Namun di balik itu, tersimpan fase sulit yang jarang terungkap. Pada masa awal, Yani meliput menggunakan sepeda ontel, menyusuri berbagai lokasi dengan keterbatasan. Upaya meningkatkan mobilitas sempat terwujud saat ia membeli sepeda motor secara kredit, namun kendaraan tersebut hilang dicuri hanya dalam waktu tujuh bulan saat ia tengah mengirim berita.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas turut membentuk karakter bertahannya. Dengan penghasilan sekitar Rp100 ribu, Yani tidak hanya bergantung pada gaji, tetapi juga aktif mencari pemasukan tambahan melalui penjualan iklan. Pola hidup hemat dan kebiasaan menabung menjadi strategi bertahan yang terus dipertahankan hingga kini.

Keputusan mendaftar haji pada 2012 disebut sebagai langkah terukur, bukan dorongan sesaat. Bersama istrinya, Ambar Amborowati, ia membangun perencanaan keuangan jangka panjang hingga akhirnya mendapatkan jadwal keberangkatan tahun ini.

Peran sang istri dinilai menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas keluarga dan usaha. Dukungan tersebut turut menopang keberlangsungan Ponorogo Pos yang kini telah mencapai lebih dari seribu edisi.

Meski telah berada di posisi strategis sebagai pimpinan media dan memiliki usaha bengkel, Yani tetap mempertahankan kedekatan dengan masyarakat. Ia aktif dalam berbagai peran sosial, mulai dari Ketua RT, pengurus koperasi, hingga struktur organisasi keagamaan dan tenaga ahli di DPRD Ponorogo.

Menjelang keberangkatan, Yani menegaskan bahwa ibadah haji bukan titik akhir, melainkan awal dari tanggung jawab moral yang lebih besar untuk memberi manfaat kepada masyarakat.

Ia berharap sepulang dari Tanah Suci dapat terus menjalankan setiap amanah dengan integritas dan keberpihakan kepada kepentingan publik. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.