SIDOARJO, Garudasatunews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur bersama SIAP SIAGA Jatim menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk merancang pedoman pelaksanaan Pesantren Tangguh Bencana (Pestana). Kegiatan yang berlangsung di Hotel Neo, Sidoarjo, Jumat (9/10/2026), tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan pesantren menghadapi berbagai potensi bencana.
Forum ini digelar sebagai refleksi atas sejumlah kejadian bencana yang menimpa lingkungan pondok pesantren, termasuk runtuhnya bangunan musala Pondok Pesantren Al-Khoziny di Buduran, Sidoarjo, pada 29 September 2025.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, membuka kegiatan tersebut. Hadir pula Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Pemprov Jatim Agung Subagyo, Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kementerian Agama Jatim H. Imam Turmudi, serta perwakilan sejumlah organisasi kebencanaan dan pengelola pesantren.
Ribuan Pesantren Berada di Wilayah Berisiko Tinggi
Dalam forum tersebut, Gatot mengungkapkan data Kementerian Agama Jawa Timur yang mencatat sekitar 7.430 pondok pesantren di provinsi ini. Dari jumlah itu, sebanyak 5.930 pesantren teridentifikasi berada di wilayah dengan potensi risiko bencana kategori tinggi berdasarkan pemetaan berbagai ancaman bencana.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya penguatan mitigasi bencana di lingkungan pendidikan keagamaan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga tempat tinggal bagi banyak santri sehingga membutuhkan sistem keselamatan yang terencana.
Penyusunan pedoman Pestana diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat kesiapsiagaan, meningkatkan pemahaman terhadap risiko bencana, serta mendorong penerapan langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi masing-masing pesantren.
Perlindungan Santri Menjadi Perhatian
Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Jatim, H. Imam Turmudi, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif pembentukan Pestana. Menurutnya, jumlah santri di Jawa Timur yang mencapai sekitar 660.437 orang menjadi alasan penting untuk memperkuat kesiapsiagaan di lingkungan pesantren.
Dukungan juga disampaikan Ketua Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Hidayat. Ia menilai pelatihan dan peningkatan kapasitas diperlukan agar pesantren semakin siap menghadapi ancaman bencana.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar edukasi kebencanaan dapat menjangkau pesantren secara lebih luas.
Kolaborasi dan Implementasi Menjadi Tantangan
FGD tersebut melibatkan perwakilan LPBI NU Jawa Timur, Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Jatim, MDMC Muhammadiyah, SRPB Jatim, IGI Jatim, BPBD kabupaten/kota, serta sejumlah pondok pesantren, termasuk Ponpes Langitan Tuban, Ponpes Amanatul Ummah, dan Ponpes At-Taroqi Sampang.
Sejumlah pemateri turut memberikan perspektif teknis, yakni pejabat fungsional ahli madya BPBD Jatim Dadang Iqwandy, perwakilan SIAP SIAGA Jatim Iswar Abidin, serta Kepala Laboratorium Struktur Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Aniendhita Rizki Amalia.
Penyusunan pedoman menjadi tahap penting, tetapi efektivitas program akan bergantung pada penerapannya di lapangan. Pemetaan risiko, kesiapan jalur evakuasi, pemahaman prosedur darurat, pelatihan berkala, serta evaluasi kondisi bangunan perlu menjadi perhatian dalam upaya membangun pesantren yang tangguh bencana.
Dengan demikian, Pestana diharapkan tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi berkembang menjadi langkah nyata untuk memperkuat budaya keselamatan dan melindungi santri maupun tenaga pendidik dari risiko bencana.
(Red-Garudasatunews)















