MALANG, Garudasatunews.id – Pemerintah menyiapkan revitalisasi Bendungan Sutami di Kabupaten Malang, Jawa Timur, sebagai langkah strategis menghadapi ancaman perubahan iklim ekstrem. Bendungan yang telah berusia lebih dari setengah abad tersebut dinilai memiliki peran vital dalam menopang ketahanan air, pangan, dan energi, terutama bagi masyarakat Jawa Timur.
Rencana revitalisasi itu mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk Strategi Penguatan Tata Kelola Bendungan Besar untuk Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim yang diselenggarakan Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNIBB) bersama INACOLD di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jumat (6/11/2026).
Seminar tersebut dihadiri Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo dan Direktur Utama Perum Jasa Tirta I (PJT I) Fahmi Hidayat. Pembahasan berfokus pada penguatan infrastruktur bendungan yang sudah beroperasi agar tetap mampu menghadapi perubahan kondisi iklim dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, pemerintah tidak hanya memprioritaskan pembangunan bendungan baru di sejumlah wilayah strategis, tetapi juga melakukan evaluasi dan revitalisasi terhadap infrastruktur lama.
Menurutnya, bendungan yang telah beroperasi puluhan tahun harus diperiksa kembali agar manfaatnya tetap optimal dalam mendukung ketahanan pangan, energi, dan ketersediaan air.
“Untuk yang sudah berdiri, termasuk yang berusia tua ini juga kita tengok lagi. Kalau kemudian belum maksimal untuk mendukung ketahanan pangan, ketahanan energi, dan air, kita maksimalkan lagi,” ujar Dody.
Bendungan Sutami menjadi salah satu infrastruktur yang mendapat perhatian pemerintah. Bendungan yang dikenal sebagai Bendungan Karangkates tersebut memiliki fungsi strategis dalam menyediakan air irigasi, air baku, serta mendukung pembangkitan listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
Bahkan, pasokan air dari bendungan tersebut disebut menopang kebutuhan hampir 50 persen wilayah Jawa Timur. Selain mempertahankan fungsi PLTA, terdapat pula rencana pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Sedimentasi Jadi Ancaman Keberlanjutan Bendungan
Di balik besarnya manfaat Bendungan Sutami, persoalan sedimentasi menjadi salah satu tantangan yang harus segera ditangani.
Direktur Utama PJT I Fahmi Hidayat menjelaskan, sedimentasi dipicu erosi permukaan di kawasan daerah tangkapan air bagian hulu yang kondisinya terbuka. Apabila tidak ditangani secara berkelanjutan, penumpukan sedimen berpotensi mengurangi kapasitas tampungan waduk dan memengaruhi kinerja pengelolaan air.
PJT I menyiapkan sejumlah langkah penanganan, di antaranya konservasi kawasan hulu, flushing atau penggelontoran sedimen di Bendungan Sengguruh, serta pengerukan sedimentasi secara berkala di Bendungan Sutami.
Fahmi menegaskan, keberadaan bendungan harus dipertahankan selama mungkin. Pasalnya, pembangunan bendungan pengganti menghadapi berbagai kendala, mulai keterbatasan lahan, dampak sosial dan lingkungan, hingga besarnya biaya konstruksi.
“Prinsip yang sekarang kami pegang, bendungan ini harus berfungsi selama-lamanya. Tidak boleh bendungan ini nanti penuh kemudian kita kesulitan, banjir lebih tidak terkendali, air baku tidak terpenuhi, dan EBT terganggu,” tegasnya.
Antisipasi El Nino dan Ancaman Banjir
Selain persoalan sedimentasi, perubahan pola cuaca, potensi El Nino, dan kemungkinan kemarau panjang menjadi perhatian pengelola bendungan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PJT I bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada awal maupun akhir musim hujan.
Langkah ini bertujuan mengoptimalkan potensi hujan agar cadangan air waduk tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko banjir akibat tingginya curah hujan.
PJT I juga menerapkan Standar Siaga Banjir Terpadu dengan pendekatan pengendalian dari kawasan hulu hingga hilir. Strateginya mencakup inventarisasi pintu air, pemeriksaan kondisi tanggul, serta kesiapan material penanggulangan banjir.
Dalam sistem tersebut, batas elevasi siaga utama ditetapkan pada angka 272.
Transparansi Revitalisasi Jadi Perhatian
Rencana revitalisasi Bendungan Sutami juga perlu diikuti kejelasan tahapan pelaksanaan, kebutuhan anggaran, target pekerjaan, serta indikator keberhasilan yang terukur.
Keterbukaan informasi mengenai kondisi teknis bendungan, perkembangan sedimentasi, dan efektivitas program konservasi menjadi penting agar masyarakat dapat mengetahui sejauh mana upaya mitigasi benar-benar berjalan.
Penguatan pengawasan dan koordinasi antarlembaga juga diperlukan untuk memastikan bendungan tetap aman, produktif, dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin kompleks.
Dengan demikian, revitalisasi Bendungan Sutami bukan sekadar pemeliharaan infrastruktur lama, melainkan bagian penting dari strategi menjaga ketahanan air, pangan, dan energi Jawa Timur untuk jangka panjang.
(Red-Garudasatunews)
















