JOMBANG, Garudasatunews.id – Persaudaraan antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang kembali mendapat ruang melalui cara sederhana: bakso dan kopi. Kehadiran Muhammadiyah Jombang dalam rangkaian penguatan Muktamar NU menjadi pesan bahwa perbedaan organisasi keagamaan tidak harus menjadi sekat dalam membangun kebersamaan.
Momentum tersebut memperlihatkan hubungan sosial dua organisasi Islam besar yang dapat tumbuh melalui interaksi yang cair di tengah masyarakat. Bakso dan kopi menjadi simbol perjumpaan, bukan sekadar hidangan, tetapi ruang komunikasi untuk memperkuat silaturahmi dan persaudaraan.
Kehadiran Muhammadiyah Jombang juga memiliki makna lebih luas menjelang Muktamar NU. Dukungan dari organisasi Islam lain menunjukkan bahwa agenda besar NU tidak semata menjadi urusan internal organisasi, tetapi turut mendapat perhatian dari elemen masyarakat dan organisasi keagamaan di Jombang.
Relasi NU dan Muhammadiyah sendiri bukan hal baru. Dalam berbagai momentum, kedua organisasi telah menunjukkan bahwa perbedaan manhaj dan tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan dalam kehidupan sosial. Bahkan, menjelang Muktamar NU ke-33 di Jombang pada 2015, Muhammadiyah Jombang pernah memasang spanduk ucapan selamat yang menampilkan KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebagai simbol persaudaraan kedua organisasi.
Kini, menjelang Muktamar NU ke-35 yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026, semangat kebersamaan tersebut kembali relevan. Penetapan Tambakberas sebagai lokasi muktamar juga dipandang memiliki nilai historis karena pesantren menjadi salah satu akar penting perjalanan NU.
Dari sudut pandang kehidupan masyarakat, perjumpaan semacam ini menunjukkan bahwa hubungan antarorganisasi keagamaan tidak selalu harus dibaca melalui perbedaan pandangan. Ruang sosial justru dapat menjadi titik temu untuk membangun komunikasi, menjaga kerukunan, sekaligus memperkuat kontribusi umat terhadap persoalan kebangsaan.
Di tengah besarnya perhatian publik terhadap Muktamar NU, pesan yang muncul dari Jombang relatif sederhana: persaudaraan dapat dimulai dari meja makan dan obrolan ringan. Bakso dan kopi menjadi bahasa sosial yang menjembatani perbedaan sekaligus mengingatkan bahwa ukhuwah tidak berhenti pada identitas organisasi.
Lebih jauh, hubungan baik NU dan Muhammadiyah di tingkat akar rumput menjadi modal sosial penting untuk menjaga suasana kondusif selama pelaksanaan Muktamar. Dengan komunikasi yang terbuka dan saling menghormati, perbedaan pilihan maupun tradisi organisasi dapat tetap ditempatkan dalam koridor persaudaraan serta kepentingan masyarakat.
(Red-Garudasatunews)
















