Lima Super Karbo Lokal Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

oleh -22 Dilihat
oleh
Lima Super Karbo Lokal Perkuat Ketahanan Pangan Nasionaal
Lima Super Karbo Lokal Perkuat Ketahanan Pangan Nasionaal
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Ketergantungan masyarakat Indonesia terhadap beras masih tergolong tinggi. Di tengah tantangan perubahan iklim, penyusutan lahan pertanian, hingga potensi gangguan pasokan pangan, pemerintah mendorong percepatan diversifikasi konsumsi melalui pemanfaatan sumber karbohidrat lokal seperti sagu, singkong, jagung, ubi, talas, dan sorgum sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Berdasarkan Direktori Konsumsi Pangan Nasional 2024 yang dikutip Badan Pangan Nasional, konsumsi beras nasional mencapai sekitar 92 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi pangan sumber karbohidrat lokal lainnya.

Kondisi tersebut dinilai meningkatkan kerentanan sistem pangan apabila produksi beras terganggu akibat perubahan iklim, penyempitan lahan, persoalan distribusi, maupun gejolak harga pangan global. Karena itu, pemerintah menegaskan pentingnya penganekaragaman pangan tanpa menghilangkan peran beras sebagai makanan pokok masyarakat.

Komitmen tersebut diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal yang menitikberatkan pada optimalisasi pangan lokal untuk memperkuat sistem pangan nasional sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan.

Direktur Penganekaragaman Konsumsi Pangan Badan Pangan Nasional, Rinna Syawal, menyatakan masyarakat masih sangat bergantung pada beras, padahal Indonesia memiliki lebih dari 77 jenis sumber karbohidrat lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai alternatif pangan.

Senada, Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menilai pengurangan ketergantungan terhadap beras dan terigu perlu terus didorong melalui pemanfaatan komoditas lokal seperti singkong, sagu, jagung, pisang, sukun, hingga sorgum.

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam keterangan resmi Badan Pangan Nasional pada Maret 2026 menyampaikan bahwa produksi dan cadangan pangan nasional berada dalam kondisi baik. Menurutnya, penguatan stok pangan perlu diikuti dengan perluasan pola konsumsi masyarakat agar lebih beragam.

Sedikitnya terdapat lima komoditas lokal yang dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber karbohidrat alternatif.

Sagu menjadi salah satu pangan pokok masyarakat di Papua, Maluku, dan sejumlah wilayah timur Indonesia. Tanaman ini mampu tumbuh di lahan rawa maupun kawasan basah sehingga dinilai adaptif terhadap perubahan iklim. Selain diolah menjadi papeda, sagu kini juga dimanfaatkan sebagai bahan baku mi, tepung, kue, dan berbagai produk pangan modern.

Singkong juga dinilai memiliki prospek besar karena mudah dibudidayakan pada berbagai kondisi lahan, termasuk lahan kering. Selain diolah menjadi gaplek, tiwul, getuk, dan nasi singkong, komoditas ini kini berkembang menjadi tepung mocaf yang dimanfaatkan sebagai bahan baku roti, mi, kue, hingga aneka produk industri pangan.

Jagung yang selama ini identik sebagai pakan ternak juga masih menjadi pangan pokok di sejumlah daerah seperti Madura, Gorontalo, Nusa Tenggara, dan Sulawesi. Jagung dapat diolah menjadi nasi jagung, bubur, tepung, hingga berbagai produk pangan siap saji yang memiliki nilai tambah ekonomi.

Ubi jalar dan talas turut menjadi sumber karbohidrat yang memiliki kandungan serat serta berbagai zat gizi. Saat ini kedua komoditas tersebut telah diolah menjadi beragam produk modern seperti roti, bolu, tepung, keripik, minuman, hingga menu kuliner yang semakin diminati masyarakat.

Sementara itu, sorgum dinilai memiliki keunggulan karena mampu tumbuh di lahan kering dengan kebutuhan input budidaya yang relatif rendah. Selain berpotensi sebagai sumber pangan, sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan baku industri. Produk olahannya meliputi nasi sorgum, tepung, mi, sereal, hingga berbagai makanan ringan.

Badan Pangan Nasional menegaskan bahwa diversifikasi pangan bukan merupakan upaya menggantikan konsumsi nasi, melainkan memperluas pilihan sumber karbohidrat masyarakat sesuai konsep Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA). Melalui pola konsumsi yang lebih beragam, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pilihan pangan yang lebih luas, tetapi juga turut mendukung penguatan ekonomi petani lokal, pelestarian pangan nusantara, serta peningkatan ketahanan pangan nasional menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.