LAMONGAN, Garudasatunews.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan menetapkan status siaga bencana kekeringan menghadapi musim kemarau 2026 setelah hasil pemetaan menunjukkan sebanyak 89 desa di 15 kecamatan masuk kategori rawan mengalami krisis air bersih.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Lamongan, Ery S. Rosidi, menyatakan hingga Sabtu (27/6/2026) belum terdapat permintaan distribusi air bersih dari wilayah yang berpotensi terdampak. Meski demikian, seluruh skenario penanganan darurat dan langkah mitigasi telah disiapkan untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan terjadi selama musim kemarau.
“Sampai saat ini belum ada permintaan dropping air bersih dari desa maupun wilayah yang mengalami kekeringan. Namun seluruh wilayah yang berpotensi terdampak telah kami petakan dalam rencana kontinjensi berdasarkan tingkat kerawanan masing-masing,” ujar Ery.
Menurut BPBD Lamongan, pemetaan wilayah rawan kekeringan dilakukan melalui koordinasi bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), organisasi perangkat daerah (OPD), serta berbagai unsur lintas sektor. Hasil pemetaan tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan rencana kontinjensi yang memuat klasifikasi wilayah berdasarkan tingkat kerawanan, jumlah desa dan dusun, serta estimasi jumlah penduduk yang berpotensi terdampak.
Data BPBD Kabupaten Lamongan tahun 2026 mencatat terdapat 44 desa berstatus kritis air dan 45 desa berkategori langka air. Dengan demikian, total terdapat 89 desa yang masuk dalam peta kerawanan kekeringan di wilayah Kabupaten Lamongan.
Kecamatan Tikung dan Kecamatan Modo menjadi wilayah dengan potensi terdampak terbesar, masing-masing memiliki 11 desa rawan kekeringan. Selain itu, wilayah Kecamatan Kembangbahu, Glagah, Sugio, Mantup, Deket, Lamongan, Sarirejo, Solokuro, Bluluk, Sambeng, Sukodadi, Kedungpring, dan Sukorame juga masuk dalam daftar prioritas pemantauan BPBD.
Sebagai langkah mitigasi, BPBD Lamongan mengimbau para petani menyesuaikan pola tanam selama musim kemarau dengan mengurangi komoditas yang membutuhkan pasokan air tinggi.
“Kami mengimbau petani untuk mempertimbangkan tanaman yang lebih hemat air, seperti kedelai, kacang hijau, maupun komoditas lainnya yang lebih adaptif terhadap kondisi kemarau,” kata Ery.
Selain itu, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap kondisi embung, telaga, dan waduk sebagai sumber cadangan air masyarakat. Sejumlah armada truk tangki air juga telah disiagakan, termasuk penentuan titik pengambilan air terdekat guna mempercepat distribusi apabila terjadi permintaan dari wilayah terdampak.
BPBD juga memastikan berbagai sarana pendukung penanganan kekeringan telah dipersiapkan, mulai dari tandon air, tandon terpal, jeriken, hingga perlengkapan distribusi lainnya. Sementara itu, Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD secara berkala menyebarluaskan informasi prakiraan cuaca dari BMKG serta mengedukasi masyarakat terkait penghematan penggunaan air dan pencegahan kebakaran selama musim kemarau.
“Pemantauan kondisi di lapangan akan terus dilakukan. Apabila terdapat laporan atau permintaan distribusi air bersih dari masyarakat terdampak, kami siap melakukan penanganan secepatnya,” tegas Ery.
BPBD Lamongan menegaskan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan tahun 2026 menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak krisis air bersih, khususnya bagi masyarakat yang berada di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi selama musim kemarau berlangsung.
(Red-Garudasatunews)















