48 Tim Siap Berlaga! Karapan Sapi Madura Bawa Pesan Persaudaraan Menuju Piala Presiden.

oleh -27 Dilihat
oleh
banner 468x60

IMG-20261025-WA0012

BANGKALAN, Garudasatunews.id – Sebanyak 48 tim karapan sapi dijadwalkan berlaga di Stadion Karapan Sapi R.P. Moh. Noer, Skep, Bangkalan, Jawa Timur, Minggu (25/10/2026). Ajang tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju Piala Presiden yang direncanakan berlangsung pada November mendatang, dengan penyelenggaraan oleh Paguyuban Kerapan Sapi se-Madura.

Di balik derap kaki sapi, debu lintasan, dan riuhnya sorak-sorai penonton, karapan sapi menyimpan nilai yang lebih luas daripada sekadar perlombaan. Tradisi khas Madura ini mengajarkan sportivitas, kerja sama, penghormatan terhadap lawan, serta pentingnya menjaga persaudaraan di tengah persaingan.

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, terutama ketika perbedaan pandangan dan kepentingan kerap menjadi tantangan dalam menjaga persatuan masyarakat.

Ketua Umum Paguyuban Kerapan Sapi se-Madura, H. Moh. Thohir, menegaskan bahwa karapan sapi bukan hanya warisan budaya yang dipertontonkan di arena. Tradisi tersebut juga menjadi ruang kebersamaan yang melibatkan pemilik sapi, joki, perawat, keluarga, dan masyarakat.

“Karapan sapi mengajarkan kepada kita bahwa persaingan tidak harus melahirkan permusuhan. Di lintasan memang ada yang menang dan ada yang kalah, tetapi setelah perlombaan selesai, kita semua tetap bersaudara. Tidak boleh karena kalah kemudian bermusuhan, tidak boleh karena menang lalu merendahkan lawan,” ujar Thohir di sela-sela persiapan liga karapan sapi, Minggu (25/10/2026).

Menurutnya, filosofi tersebut dapat menjadi pelajaran dalam kehidupan politik dan demokrasi. Kompetisi seharusnya menjadi ruang untuk menunjukkan kemampuan dan memperjuangkan gagasan, bukan alasan untuk merendahkan pihak lain atau memutus hubungan sosial.

Demokrasi, dalam pandangan tersebut, tidak semata-mata diukur dari keberhasilan meraih kekuasaan. Kemampuan menghormati perbedaan, menerima hasil kompetisi, serta mengutamakan kepentingan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam kehidupan demokratis.

Thohir menilai, karapan sapi menunjukkan bahwa sebuah kompetisi tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir. Di balik perlombaan, terdapat proses panjang yang membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerja kolektif.

“Kalau kita melihat karapan sapi hanya dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, kita kehilangan makna yang sebenarnya. Di sini ada pembangunan, ada gotong royong, ada ekonomi masyarakat, ada penghormatan kepada sesama, dan ada keguyuban,” katanya.

Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Masyarakat

Selain memiliki nilai sosial dan budaya, karapan sapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Kegiatan ini melibatkan berbagai pelaku usaha, mulai dari peternak, perawat sapi, pembuat perlengkapan, pedagang, hingga sektor pariwisata.

Jika dikelola secara berkelanjutan, tradisi tersebut dapat membuka peluang ekonomi sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Madura kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Karapan sapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Madura yang perlu dijaga keberlangsungannya. Di tengah perubahan zaman, pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas budaya, pelaku tradisi, dan generasi muda.

Bagi Thohir, nilai gotong royong, sportivitas, dan kebersamaan yang tumbuh dalam karapan sapi merupakan modal sosial yang penting untuk memperkuat kehidupan masyarakat.

Nilai tersebut juga dapat diterapkan dalam kehidupan politik. Persaingan antarkelompok maupun antarpartai merupakan bagian dari demokrasi, tetapi perbedaan pilihan tidak seharusnya menghilangkan rasa saling menghormati.

“Politik seharusnya juga memiliki keindahan seperti karapan sapi. Silakan berkompetisi, silakan memperjuangkan gagasan dan meraih kepercayaan masyarakat, tetapi jangan sampai persaingan menghilangkan rasa hormat dan persaudaraan. Kekuasaan bukan tujuan yang membenarkan segala cara,” tegasnya.

Ia menambahkan, persaingan perlu tetap berjalan dalam koridor hukum dan aturan yang berlaku. Hukum harus ditegakkan secara adil, sedangkan kekuasaan harus dijalankan dengan tanggung jawab dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.

Berharap Presiden Hadir di Madura

Rencana penyelenggaraan Piala Presiden pada November mendatang diharapkan menjadi momentum untuk memperluas pengenalan karapan sapi sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia.

Keberhasilan agenda tersebut tidak hanya dapat dilihat dari kemeriahan perlombaan atau siapa yang keluar sebagai juara, tetapi juga dari manfaatnya bagi masyarakat, perhatian terhadap pelaku budaya, serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga tradisi.

Thohir berharap Presiden Prabowo Subianto dapat hadir langsung dalam pelaksanaan Piala Presiden di Madura. Menurutnya, kehadiran kepala negara akan menjadi bentuk perhatian terhadap kebudayaan daerah yang terus dipertahankan masyarakat secara turun-temurun.

“Kami berharap Bapak Presiden Prabowo Subianto berkenan hadir langsung di Madura. Kehadiran Presiden akan menjadi kebanggaan masyarakat sekaligus pesan bahwa negara menghargai kebudayaan daerah. Karapan sapi bukan hanya milik orang Madura, melainkan bagian dari kekayaan Indonesia,” ungkap Thohir, yang akrab disapa Abah Thohir.

Meski demikian, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui penyelenggaraan perlombaan atau kehadiran pejabat negara. Dukungan berkelanjutan, pembinaan pelaku tradisi, pengembangan ekonomi masyarakat, serta ruang bagi generasi muda untuk terlibat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan karapan sapi.

Pada akhirnya, karapan sapi bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Tradisi ini juga mengandung pesan mengenai pentingnya menjaga kehormatan, menerima kemenangan dan kekalahan dengan lapang dada, serta merawat persaudaraan di tengah perbedaan.

Dari Madura, karapan sapi menghadirkan pelajaran sederhana bagi kehidupan berbangsa: kemenangan tidak seharusnya melahirkan kesombongan, kekalahan tidak harus berujung permusuhan, dan perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk terpecah belah.

Sebab, ketika perlombaan berakhir, masyarakat tetap memiliki tanggung jawab yang sama, yakni menjaga kebersamaan, membangun daerah, melestarikan kebudayaan, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.