Wayang Topeng Jatiduwur: Budaya atau Komoditas?

oleh -69 Dilihat
oleh
Wayang Topeng Jatiduwur Budaya atau Komoditas
Pembuatan wayang topeng di Desa Jatiduwur Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang
banner 468x60

JOMBANG, Garudasatunews.id – Pengembangan Wayang Topeng Jatiduwur di Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, mulai diarahkan tidak hanya sebagai pelestarian budaya, tetapi juga komoditas ekonomi. Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo kini aktif memproduksi topeng tradisional sekaligus merancang strategi pemasaran berbasis pariwisata, memunculkan pertanyaan soal keseimbangan antara nilai budaya dan kepentingan ekonomi.

Pada Minggu (19/4/2026), seorang perajin yang dikenal sebagai Kopral terlihat memahat kayu waru menjadi topeng baru. Proses manual dengan alat sederhana ini masih dipertahankan sebagai ciri khas produksi. Namun, belum ada standar produksi maupun sistem distribusi yang jelas jika topeng-topeng tersebut diarahkan menjadi produk komersial berskala lebih luas.

Pengelola sanggar, Isma Hakim, menyatakan pengembangan produksi topeng merupakan bagian dari pelestarian Wayang Topeng Jatiduwur, termasuk pelatihan tari bagi anak-anak. Meski demikian, belum diungkap sejauh mana program ini terstruktur, berkelanjutan, dan memiliki dukungan pendanaan yang memadai.

Selain untuk pementasan, topeng yang diproduksi akan dijadikan merchandise bagi wisatawan. Rencana ini diperluas dengan produksi ornamen lain seperti selendang dan koncer. Namun, konsep bisnis, target pasar, serta potensi dampak terhadap nilai autentik kesenian belum dipaparkan secara rinci.

Akademisi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Setyo Yanuartuti, menilai Wayang Topeng Jatiduwur memiliki potensi besar sebagai media kreatif. Ia mendorong transformasi kesenian ini dari fungsi ritual menuju pertunjukan yang adaptif di berbagai event. Pernyataan ini membuka ruang diskusi terkait perubahan fungsi budaya yang berisiko menggeser makna asli kesenian tersebut.

Setyo juga mengungkap rencana pengembangan merchandise berbasis karakter wayang topeng sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Namun, belum ada kejelasan mengenai model pengelolaan, pembagian keuntungan bagi perajin lokal, serta perlindungan hak kekayaan intelektual atas karya budaya tersebut.

Di tengah upaya pelestarian, Wayang Topeng Jatiduwur kini berada di persimpangan antara menjaga warisan budaya dan memenuhi tuntutan pasar. Tanpa regulasi dan pengawasan yang jelas, komersialisasi berpotensi menggerus nilai tradisi yang selama ini dijaga masyarakat setempat. (Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.