Waspada Bediding, Suhu Jatim Turun Ekstrem

oleh -48 Dilihat
oleh
Waspada Bediding, Suhu Jatim Turun Ekstrem
Fenomena Bediding buat Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diselimuti embun upas. (Instagram/cretivox)
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat Jawa Timur meningkatkan kewaspadaan terhadap fenomena bediding yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026. Fenomena udara dingin yang muncul pada puncak musim kemarau tersebut berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, sektor pertanian, hingga aktivitas wisata dan pendakian di sejumlah wilayah dataran tinggi.

Fenomena bediding terjadi akibat dominasi angin Monsun Timur yang membawa massa udara kering dan dingin dari Benua Australia menuju wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperkuat langit cerah tanpa tutupan awan sehingga panas permukaan bumi lebih cepat terlepas ke atmosfer pada malam hari dan menyebabkan suhu udara turun signifikan.

Sejumlah kawasan pegunungan di Jawa Timur dilaporkan mengalami penurunan suhu yang cukup ekstrem. Di kawasan Gunung Bromo, misalnya, suhu udara pada dini hari tercatat mencapai sekitar minus 5 derajat Celsius. Kondisi itu memicu terbentuknya embun upas atau embun beku yang menutupi vegetasi di area padang savana dan lautan pasir sehingga menyerupai hamparan salju.

Selain Bromo, fenomena serupa juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah dataran tinggi lainnya seperti Ranu Pani di kawasan Semeru, Kota Batu, Kawah Ijen, serta kawasan pegunungan yang berada di wilayah Malang Raya, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Bondowoso, dan Banyuwangi.

Meski menjadi daya tarik wisata alam, embun upas menyimpan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai. Paparan suhu dingin dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), flu, batuk, hingga hipotermia. Kelompok yang paling rentan terdampak adalah anak-anak, lansia, dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pada malam hingga dini hari.

Dampak bediding juga menjadi perhatian di sektor pertanian. Embun beku berpotensi merusak jaringan tanaman akibat pembekuan air di permukaan daun yang dapat memicu kerusakan sel. Tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di kawasan dataran tinggi dinilai menjadi komoditas paling rentan mengalami kerugian akibat kondisi cuaca ekstrem tersebut.

BMKG mengingatkan petani untuk melakukan langkah antisipasi guna meminimalkan risiko kerusakan tanaman selama periode bediding berlangsung. Langkah mitigasi diperlukan mengingat fenomena ini diperkirakan mencapai puncaknya sepanjang musim kemarau tahun ini.

Bagi wisatawan dan pendaki yang berencana mengunjungi kawasan pegunungan, BMKG meminta agar mempersiapkan perlengkapan yang memadai. Jaket tebal, sarung tangan, penutup kepala, sleeping bag tahan suhu rendah, serta asupan makanan dan minuman hangat menjadi perlengkapan penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu dingin ekstrem.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menjaga kondisi rumah tetap hangat, terutama pada malam hingga pagi hari. Perhatian khusus perlu diberikan kepada bayi, anak-anak, dan lansia yang lebih sensitif terhadap perubahan suhu.

Sementara itu, peternak di kawasan dataran tinggi diminta memastikan kandang ternak mampu melindungi hewan dari terpaan angin malam serta menjaga ketersediaan pakan dan air minum selama periode bediding berlangsung.

BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau informasi prakiraan cuaca dan perkembangan suhu udara melalui saluran informasi resmi sebelum melakukan perjalanan, aktivitas luar ruangan, maupun pendakian ke kawasan pegunungan selama musim kemarau berlangsung.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.