MAGETAN, Garudasatunews.id – Wakil Bupati Magetan Suyatni Priasmoro mendorong warga memanfaatkan lahan kosong dengan menanam pisang cavendish untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dinilai strategis guna mengurangi ketergantungan pasokan buah impor yang masih mendominasi pasar domestik.
Suyatni menegaskan kebutuhan buah berkualitas untuk program nutrisi pemerintah sangat besar dan bersifat rutin. Namun, produksi lokal dinilai belum mampu memenuhi permintaan secara berkelanjutan.
“Buah kita kebanyakan masih impor. Padahal kebutuhannya besar dan rutin. Ini peluang bagi masyarakat,” ujarnya, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan tidak semua jenis buah efektif untuk distribusi program MBG karena faktor ketahanan dan pengemasan. Buah seperti pisang, jeruk, salak, dan apel dinilai lebih praktis dibanding melon atau semangka yang rentan rusak saat distribusi.
Menurutnya, pisang cavendish memiliki ukuran ideal untuk porsi tunggal serta permintaan pasar yang stabil. Jika sekitar 300 ribu kepala keluarga di Magetan menanam dua pohon, maka akan tersedia 600 ribu pohon produktif yang berpotensi menjadikan Magetan sebagai sentra produksi.
“Kalau dikelola serius, Magetan bisa jadi pusat produksi. Kebutuhannya besar sekali,” katanya.
Suyatni menyebut budidaya pisang relatif mudah dibanding komoditas lain yang membutuhkan teknologi dan perawatan intensif. Ia mengajak petani dan masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam pisang cavendish. Aparatur Sipil Negara (ASN) juga didorong memberi contoh dengan menanam minimal tiga hingga empat pohon.
Pemerintah Kabupaten Magetan berencana mengusulkan program percontohan budidaya kepada Dinas Pertanian, termasuk pendampingan teknis agar hasil panen memenuhi standar pasar dan industri pengolahan.
“Kebutuhan besar jangan terus diisi impor. Kalau bisa produksi sendiri, kenapa tidak,” tegasnya.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Magetan. (Red-Garudasatunews)














