UNESA Dorong Reog Jadi Produk Kriya Ekonomi Perempuan

oleh -107 Dilihat
oleh
UNESA Dorong Reog Jadi Produk Kriya Ekonomi Perempuan
Belasan ibu-ibu Desa Serag saat menunjukan hasil pelatihan batik ikat. (Foto/Istimewa)
banner 468x60

PONOROGO, Garudasatunews.id – Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mendorong kekayaan budaya lokal, khususnya Reog Ponorogo, tidak berhenti sebagai identitas kesenian, tetapi dikembangkan menjadi inspirasi produk kriya yang memiliki nilai ekonomi bagi perempuan di Desa Serag, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Upaya tersebut diwujudkan melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pemberdayaan Perempuan Berbasis Keterampilan Seni Kriya sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Hidup dan Kemandirian Ekonomi Perempuan di Desa Serag”. Kegiatan berlangsung pada 28-30 Agustus 2026 dengan melibatkan Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni sebagai mitra.

Program ini mempertemukan S1 Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) FBS UNESA dengan S3 Pendidikan Seni FBS UNESA. Fokusnya bukan sekadar memberikan keterampilan membuat kerajinan, tetapi membuka peluang agar potensi budaya Ponorogo dapat menjadi identitas produk rumahan yang berpotensi dikembangkan menjadi komoditas ekonomi.

Ketua kegiatan PKM UNESA, Indar Sabri, mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk membekali perempuan Desa Serag dengan keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri. Salah satu materi yang diberikan ialah pembuatan gantungan kunci dengan desain yang dapat mengangkat unsur Reog Ponorogo.

“Harapannya para perempuan Desa Serag bisa mandiri ekonomi. Setelah ini mereka bisa secara mandiri memproduksi gantungan kunci kekinian dari tema-tema budaya lokal, serta batik ikat juga sebagai komoditi,” kata Indar, Sabtu (29/8/2026).

Selain gantungan kunci, peserta mendapat pelatihan batik ikat dan batik ecoprint. Namun, praktik ecoprint menghadapi kendala karena daun yang tersedia di lokasi tidak seluruhnya menghasilkan warna sesuai harapan. Tim kemudian memaksimalkan pelatihan batik ikat sebagai alternatif yang lebih memungkinkan diterapkan peserta.

Persoalan tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan berbasis produk lokal tidak cukup berhenti pada pelatihan teknis. Ketersediaan bahan baku, kualitas produk, desain, hingga peluang pemasaran menjadi faktor penting agar keterampilan yang diberikan benar-benar dapat berubah menjadi kegiatan ekonomi berkelanjutan.

UNESA kemudian membawa gagasan yang lebih luas, yakni mengembangkan “ekonomi budaya”. Konsep tersebut menempatkan kearifan lokal sebagai sumber penciptaan produk bernilai ekonomi, dengan Reog Ponorogo sebagai salah satu identitas yang dinilai memiliki ruang besar untuk dikembangkan ke berbagai produk kreatif.

“Bagaimana kita meningkatkan ekonomi budaya dengan produk-produk berkreatif berbasis dari kearifan lokal. Mengeksplorasi Reog Ponorogo misalnya, dengan menghasilkan produk-produk kreatif,” ujar Indar.

Salah satu peserta, Suryati, mengaku mendapatkan pengalaman baru dari pelatihan tersebut. Ia sebelumnya belum pernah membuat batik. Setelah memperoleh pendampingan, keterampilan tersebut dinilai dapat menjadi bekal untuk dikembangkan sebagai usaha rumahan.

“Bisa dikembangkan sebagai usaha rumahan,” kata Suryati.

UNESA juga menilai keberadaan Sanggar Yayasan Rumah Budaya Harmini Parni penting untuk menjaga keberlanjutan program setelah pendampingan berakhir. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan dapat diteruskan kepada komunitas perempuan lainnya sehingga manfaat program tidak berhenti pada peserta pelatihan.

Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah dosen Prodi S3 Pendidikan Seni FBS UNESA, yakni Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., Prof. Dr. Drs. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A., Prof. Dr. Hj. Warih Handayaningrum, M.Pd., dan Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si.

Program ini sekaligus memperlihatkan tantangan utama pemberdayaan ekonomi berbasis budaya: bagaimana mengubah keterampilan dan simbol budaya menjadi produk yang konsisten, memiliki pasar, serta mampu memberikan pendapatan bagi masyarakat. Karena itu, keberlanjutan pendampingan dan akses pasar menjadi faktor yang akan menentukan apakah gagasan Reog sebagai sumber ekonomi budaya benar-benar memberi dampak jangka panjang bagi perempuan Desa Serag.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.