Unej Masih Ragu Bangun Dapur MBG

oleh -30 Dilihat
oleh
Unej Masih Ragu Bangun Dapur MBG
Rektor Unej, Iwan Taruna. (Sumber FOTO: Beritajatim.com)
banner 468x60

JEMBER, Garudasatunews.id – Peluang pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lingkungan Universitas Jember (Unej) masih menghadapi tanda tanya besar. Pihak kampus menegaskan belum memiliki rencana konkret karena terbentur persoalan anggaran, kesiapan internal, hingga potensi penolakan dari sivitas akademika.

Rektor Iwan Taruna menyatakan, kebijakan pembangunan dapur MBG tidak bisa dijalankan secara mendadak tanpa kajian matang. Menurutnya, seluruh kebutuhan anggaran kampus tahun 2026 telah ditetapkan sebelumnya sehingga ruang pembiayaan program baru sangat terbatas.

“Harus dikaji dulu. Tidak bisa tiba-tiba karena perlu perencanaan matang. Anggaran tahun ini juga sudah di-dok sebelumnya,” ujar Iwan, Sabtu (16/5/2026).

Ia mengungkapkan, pembangunan satu unit dapur MBG membutuhkan dana besar, berkisar Rp1,5 miliar hingga Rp2 miliar hanya untuk pembangunan fasilitas dan pengadaan peralatan dapur. Kondisi tersebut membuat Unej belum berani mengambil langkah lebih jauh.

Meski demikian, Unej sebenarnya memiliki Program Studi Ilmu Gizi dan Program Studi Teknologi Hasil Pertanian yang dinilai relevan dengan program MBG nasional. Namun hingga kini, pihak kampus menegaskan fokus utama institusi belum diarahkan pada pembangunan SPPG.

“Kita belum punya rencana ke sana. Fokus kita bukan di situ,” tegasnya.

Iwan juga mengakui, sikap internal kampus menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Pihak rektorat disebut tidak ingin mengabaikan adanya suara penolakan yang muncul dari kalangan sivitas akademika maupun mahasiswa terkait kemungkinan keterlibatan Unej dalam program MBG.

Menurutnya, penolakan internal justru dapat memicu persoalan baru di lingkungan kampus apabila dipaksakan tanpa kesepakatan bersama.

“Iya jadi pertimbangan. Jangan sampai nanti lebih besar mengurus penolakan daripada mengurus dapurnya,” katanya.

Pernyataan tersebut memunculkan sinyal bahwa implementasi program MBG di lingkungan perguruan tinggi, khususnya di Unej, masih menyimpan persoalan serius yang memerlukan kajian mendalam, baik dari sisi anggaran, kesiapan infrastruktur, maupun dukungan internal kampus.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.