UHW Perbanas Kembangkan Cap Batik 3D untuk Difabel

oleh -34 Dilihat
oleh
UHW Perbanas Kembangkan Cap Batik 3D untuk Difabel
Dosen DKV UHW Perbanas menciptakan inovasi alat cap resin untuk para perajin disabilitas di UMKM Batik Wistara
banner 468x60

SURABAYA, Garudasatunews.id – Universitas Hayam Wuruk (UHW) Perbanas mengembangkan inovasi cap batik berbahan resin hasil cetak tiga dimensi (3D) untuk meningkatkan efisiensi proses produksi bagi perajin difabel di Kota Surabaya. Teknologi tersebut diterapkan melalui program pemberdayaan di UMKM Batik Wistara, Surabaya Timur, sebagai upaya memperkuat industri batik yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab kebutuhan perajin dengan keterbatasan fisik maupun pendengaran agar dapat bekerja lebih nyaman, ringan, dan efektif tanpa mengurangi kualitas hasil produksi batik. Pendekatan tersebut menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi, pelaku UMKM, dan pemerintah dalam mendorong pemberdayaan penyandang disabilitas melalui teknologi tepat guna.

Pemilik Batik Wistara, Sumarni, mengungkapkan usahanya mulai membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas setelah bertemu dua pencari kerja yang mengalami kesulitan memperoleh pekerjaan.

“Saya bertanya pada mereka sudah dua minggu belum dapat pekerjaan, kemudian bisanya apa? Kebetulan keduanya bisa jahit dan bekerja di sini hingga sekarang,” ujar Sumarni, Jumat (7/8/2026).

Menurutnya, keberadaan pekerja difabel tidak menjadi hambatan terhadap produktivitas usaha yang telah berjalan selama 16 tahun. Saat ini, enam dari total 12 karyawan Batik Wistara merupakan penyandang disabilitas.

“Usaha kami sudah berjalan selama 16 tahun ini dan semuanya aman,” tambahnya.

Komitmen UMKM tersebut kemudian mendapat perhatian dari Dosen Desain Komunikasi Visual (DKV) UHW Perbanas, Nanang Setiyoko, bersama tim pengabdian masyarakat. Mereka mengembangkan cap batik berbahan resin hasil cetak 3D yang memiliki bobot lebih ringan, desain ergonomis, dan lebih mudah dioperasikan oleh perajin difabel.

Menurut Nanang, inovasi tersebut disusun berdasarkan kebutuhan pengguna sehingga mampu mendukung aktivitas produksi secara lebih efektif.

“Teknologi cap batik berbahan resin kami rancang agar lebih ringan, mudah digunakan, serta menggunakan pendekatan kerja visual yang sesuai dengan karakteristik perajin,” jelasnya.

Selain menghadirkan inovasi alat produksi, program ini juga memperoleh dukungan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Pendampingan yang diberikan tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga mencakup pelatihan strategi pemasaran produk serta pemanfaatan limbah kain batik agar memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dari sudut pandang pengembangan UMKM, program tersebut dinilai dapat memperkuat daya saing industri batik melalui peningkatan produktivitas sekaligus mendorong penerapan teknologi ramah bagi penyandang disabilitas. Sementara dari sisi pemberdayaan sosial, keterlibatan pekerja difabel menunjukkan bahwa kesempatan kerja yang setara dapat diwujudkan apabila didukung inovasi dan lingkungan kerja yang inklusif.

Nanang menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersedianya alat produksi baru, melainkan dari kemampuan perajin mengoperasikan teknologi tersebut secara mandiri sehingga manfaatnya dapat berlangsung secara berkelanjutan.

“Kami ingin inovasi ini benar-benar menjadi sarana pemberdayaan. Tidak sebatas memberi alat, tapi memastikan perajin mampu menggunakannya secara mandiri agar manfaatnya terasa jangka panjang,” tegasnya.

Kolaborasi antara UHW Perbanas, pemerintah, dan pelaku UMKM diharapkan mampu menjadi model pengembangan industri batik berbasis inovasi yang inklusif. Selain meningkatkan produktivitas perajin difabel, program ini juga diharapkan memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas serta memperkuat daya saing UMKM batik di tengah perkembangan teknologi manufaktur modern.

(Red-Garudasatunews)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.